Jalan-Jalan

Catatan Atas Awan (part 4)

Catatan Atas Awan (part 4)

“Begitu bertemu Iin, kalian stop, berhenti!” selang tidak lama, Azis muncul bersama Yayak. Mereka mengikat diri dengan tali karmantel yang tidak begitu panjang. Kelegaan yang penuh melihat mereka datang. “Ikatan tali ini di tubuhmu, tali ini yang akan menyatukan langkah kita. Kita tidak akan terpisah” kata Yayak. Segera tanpa pikir panjang aku meraih ujung tali dan mengikatkan di tubuhku. Angin seolah tidak lagi bisa diajak untuk bersahabat, kabut semakin tebal, gelap dan pasir kerikil terus menghujani langkah kami.

Pelan, tertatih dan terus berusaha untuk menemukan posisi Iin dan Baried. Peluit sesering mungkin kami bunyikan, sebagai alat komunikasi. Kami melangkah dengan diam, tidak ada yang bersuara. Wajah dan bibir kami bergetar kencang menahan dingin dan rasa perih. “Hoi…!” terdengar teriakan dari arah depan. Itu suara Iin dan Baried. kami segera menuju arah suara mereka. Kerjasama yang bagus, Baried dan Iin rupanya telah mengikat tubuh mereka dengan frusik yang selalu kami bawa. Tali 1 meter itu telah menyatukan mereka. Kami berkumpul utuh kembali. Saatnya memulai perjalanan untuk turun menuju Bambangan. Yayak berjalan di depan, mencari jalan turun ke Bambangan. “tanah berpasir ke kanan..” katanya memberi petunjuk pada yang lain. Kami terus berjalan ke kanan, kami menemukan tanah berpasir yang cukup landai, kami terus mengambil arah ke kanan. Tapi, tiba tiba Yayak menghentikan langkahnya. Kami Pun ikut berhenti. Kekhawatiran kembali menyapa pikiran kami. “kenapa Yak?” Azis memberanikan diri untuk bertanya. Yayak tidak menjawab sepatah kata pun. Pastinya situasi ini membuat kami kebingungan dan tidak mengerti. Tidak biasanya Yayak seperti ini. Dia selalu memberikan jawaban dan penjelasan yang menenangkan kami, tapi kali ini dia hanya diam. Yayak mengeluarkan peta dan kompasnya. Tapi dia melipat kembali peta itu dan segera menyimpannya di dalam tas kecilnya.

“kita ambil jalan mana Yak?” kali ini Baried ambil suara. Lagi lagi tidak ada jawaban. Kondisi ini membuat kami frustasi.

“Yak, ngomong dong, kenapa sih” kataku menahan emosi. Aku mendesak Yayak untuk bicara. Aku sendiri bisa gila kalau Yayak bertingkah seperti itu. seburuk apapun semua harus dikatakan. Iin mengunci mulutnya, matanya nanar menatap kabut yang menyelimuti ketinggian ini, bibirnya bergetar menahan dingin,hingga akhirnya dia merebahkan tubuhnya ke tanah berpasir yang basah. Iin memeluk erat lututnya berharap kehangatan akan menenangkan galaunya.

“Yak, kita kehilangan jalan ya?” Azis menerka.

“Ngomong dong, kamu ga lihat kondisi Iin seperti itu? kalau kamu diam dan kita semua diam berdiri di sini, bisa mati kedinginan tau!” Baried tampak emosi menanggapi aksi diam yayak. Kudekap Iin, berharap dia bisa bangkit lagi. Sekedar berbagi kehangatan dan mengikis kegelisahan.

“Kita istirahat dulu…Di bawah ada cerukan, mungkin disana ada air.” Akhirnya Yayak bersuara meskipun kalimat yang dia katakan bukan jawaban yang kami harapkan. Sampai di cerukan, tali yang mengikat tubuh kami lepaskan. Agar lebih leluasa istirahat. Kuhempas carrier sekedar memberi nafas pundakku, Iin melepaskan carrier dan memeluknya erat, Azis memuaskan diri dengan minum air dari cerukan, Baried membongkar isi carrier dan mengeluarkan sepatu untuk Azis. Yayak kembali mengeluarkan peta dan kompasnya. Kami coba untuk tahu posisi kami di peta, barangkali itu akan membantu kami untuk menemukan jalan turun ke Bambangan.

“Orientasi medan di cuaca berkabut, mana bisa, Yak…” terdengar suara dari atas cerukan. Itu suara Yudi, pendamping tim Kaliwadas II. Satu persatu teman-teman dari Kaliwadas II muncul dari balik kabut tebal. Kemudian mereka bergabung istirahat di cerukan yang sempit. Puncak gunung Slamet menjadi lebih ramai, tidak sesepi saat kami hanya berlima. kedatangan tim Kaliwadas II membangkitkan semangat kami lagi. Emosi yang sempat mewarnai tim pun mencair, semua kembali tenang, meskipun kekhawatiran tersesat dan terjebak badai di puncak gunung tetap saja menghantui. Akhirnya aku dan Doni sepakat untuk membawa tim ini bergabung, jalan bersama – sama.

“Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan cuaca seperti ini. Jalan untuk turun saja kita tidak tahu, bagaimana bisa lanjutkan ke Bambangan” Yudi membuka rencana.

“Tapi kita tidak juga bisa membuka camp di sini” Yayak menimpali. Kemudian mereka terdiam. Kami pun tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Ini pendakian pertama kami di gunung Slamet. Dan sepertinya tidak ada seorangpun dari kami yang pernah mengalami situasi terjebak badai di puncak gunung dan tidak tahu pasti jalan untuk turun. Itu masalahnya.

“Kita coba jalan lagi, siapa tahu jalan turun itu kita temukan” Hakim, pendamping lain tim Kaliwadas menyampaikan pendapatnya. Kami pun menyetujui pendapat itu. Cerukan sempit berair itu kami tinggalkan, langkah kami merapat satu sama lain. Tidak ingin terpisah dan tertinggal sendirian, kami paksa mulut ini untuk bicara dan sekedar berbagi cerita, apapun agar kesunyian tidak lagi mewarnai ketinggian gunung ini. Agar gemuruh tidak terlalu mengganggu pendengaran kami. Kami jalan ke kanan, terus ke kanan sampai suatu ketika langkah kami terhenti di sebuah tanah berbatu yang agak datar. Seketika kami semua diam, kami saling pandang, beberapa batu nisan memoriam terpasang di sana. Bulu kuduk kami berdiri, kami tidak menyangka langkah ke kanan dan terus ke kanan membawa kami ke kompleks memoriam ini. “Jalan lagi yuk…” Agni salah satu anggota tim Kaliwadas II menarik tanganku menjauh dari memoriam yang berada tepat di depan kami. Aku mengikuti ajakannya. Rupanya hal serupa juga terjadi pada Iin, Azis dan teman – teman lain. “Kalian tunggu disini, aku coba cari jalan” Hakim mengalihkan perhatian kami. Tidak ada sahutan, hanya anggukan dari Yayak dan Yudi.

“Yak, mau tidak mau kita harus buat camp di sini. Sudah lewat jam 2 siang, kabut semakin tebal. Badai ini terlalu beresiko untuk dilalui”

“Iya, kita cari tempat yang agak terlindung. Dan jangan di sini. Tapi kita tunggu Hakim datang, mungkin dia menemukan jalan”.

“Gimana, Kim?!” tanya Yayak dan Yudi bersamaan begitu Hakim datang. Dari rautnya terlihat jelas, dia tidak menemukan petunjuk jalan untuk turun.

“Nol.Terlalu bahaya untuk gambling turun. Kita dirikan camp di sini” jawab Hakim.

“Jangan disini, teman – teman udah ketakutan liat memoriam yang tersebar kaya gini. Kita cari tempat lain”.

Kami tinggalkan kompleks memoriam dan semua kejadian yang memaksa sekian banyak nama itu terukir di nisan dan terkubur di ketinggian sedingin ini. Akhirnya kami menemukan tanah datar berbatu. Tidak cukup luas untuk mendirikan 3 tenda selayaknya. Terpaksa, kami hanya mendirikan dua tenda, satu untuk tim Kaliwadas II, satu untuk tim Baturaden II. Badai masih saja menerbangkan pasir dan bebatuan. Semakin sore, badai semakin kuat berhembus, gemuruh menyambut hari yang beranjak gelap. Azis mengeluarkan tenda dari dalam carriernya. Berpacu dengan tiupan angin yang menghempas kain tenda, membuat kami kesulitan membentangkan untuk dipasangkan frame. Satu tenda kapasitas 4 orang itu memaksa kami untuk mengerahkan semua tenaga. “Carrier masukkan dulu!” kata Yayak. Aku dan Iin segera mengikuti perintah Yayak, carrier kami masukkan ke dalam tenda sekedar pemberat. Setelah semua carrier masuk, frame penyangga mulai kami pasang. Malang, angin terlalu kuat untuk dilawan, frame hancur tidak bisa lagi digunakan. Sementara Doni masih sibuk dengan tendanya. “Don, ada tenda lagi nggak? Tendaku framenya hancur!” kataku setengah berteriak. Gemuruh angin membuat kami harus berteriak.

“Ada satu tapi cuma kapasitas 2 orang…” balasnya.

“Ried, kamu ambil tenda satunya…”kataku kemudian. Baried membongkar isi carriernya. Tenda itu tersimpan agak kedalam, sehingga cukup menyulitkan. Aku tahu tenda Baried terlalu kecil untuk menampung kami berlima ditambah dengan carier sebesar ini. Tapi apa boleh buat, itu satu satunya yang tersisa.

Hari menjelang sore, pukul setengah tiga. Langit gelap dan angin bertiup semakin keras. Kami terdiam di dalam tenda, tidak ada cerita. Semua sibuk menata badan karena tenda yang terlalu kecil. Hembusan angin menggoyang tenda kami, frame tenda meliuk terasa seperti cambukan menghantam tubuh. Carrier yang digunakan untuk menahan frame tenda agar tetap berdiri rupanya terlalu ringan. Beberapa kali carrier yang kami tumpuk itu jatuh membuat ruang tenda yang sempit menjadi semakin sempit dan menyiksa.

“Kita atur lagi cariernya…” aku mencoba membuyarkan pikiran kalut dan kegelisahan sahabat – sahabatku. Aku tahu pikiran mereka barangkali tidak terlalu berbeda dengan pikiranku. Ketakutan dan kekhawatiran mereka pastinya juga tidak jauh seperti apa yang aku takutkan. Carrier kami tata mengisi masing – masing sisi tenda, dan untuk menahan frame agar tidak patah, kami duduk di atas carrier menyudut di sudut tenda. Posisi yang sangat menyiksa.

“Ole…le…” terdengar teriakkan dari tenda Doni. Kami membalasnya dengan teriakan yang sama.

“Jaga komunikasi ya!” teriak Hakim.

“Sip!” teriak Yayak. Semakin waktu bergerak mendekat malam, cuaca semakin buruk. Angin tidak hanya membawa terbang pasir dan bebatuan, air pun dia bawa membasahi tanah tempat kami mendirikan camp darurat. Gerimis diikuti hujan yang cukup deras. Situasi bertambah buruk ketika Azis mulai ngomel tidak karuan, penyesalan telah mengikuti pendakian ini. Baried dan Iin merapatkan tubuh dan lututnya mencari kehangatan. Aku dan Yayak hanya saling pandang melihat kondisi mereka. Sesekali aku bersenandung lagu badai pasti berlalu nya Chrisye, seolah bertanya pada alam kapan badai ini akan berlalu, mencoba meyakinkan diri sendiri dan orang – orang disekitarku kalau badai pasti berlalu. Walaupun aku sendiri tidak tahu kapan. “Masak…masak…buat hiburan!” Yudi kembali berteriak dari dalam tendanya. Aku melirik jam di tanganku, setengah enam sore. Sepertinya Azis kecapekan ngomel, dia terlihat tidur, atau tepatnya memaksa untuk bisa tidur. Aku dan Iin menyiapkan makan malam. Terlalu sulit untuk bisa memasak nasi dengan parafin. Kami tidak mungkin memasak di luar tenda, semua aktivitas dilakukan di dalam tenda, dan asap paraffin terlalu berbahaya untuk pernapasan kami. “Kita masak yang praktis aja Vi “ kata Iin menyadari keterbatasan dan kesulitan untuk memasak sempurna. Aku mengangguk setuju. Kompor disiapkan untuk memanaskan air. Yayak membantu menyalakan api dengan batang koreknya. Berkali dicoba, sampai batang korek itu habis, kompor masih belum menyala. Kami menghela napas panjang menahan emosi dan frustasi.

“Kita coba lagi” kataku.

“Udah deh, kelamaan, langsung dimakan aja mienya” kata Baried tiba – tiba sambil merebut mie instan dari tangan Iin. “Kok gitu sih, Ried” protes Iin.

“Daripada makin kelaparan ngurusin kompor, langsung dimakan aja. Begini juga enak”

“iya, tapi kalau bisa dimasak kan bisa lebih kenyang”

“Mau kenyang? Kaya gini caranya…” Baried menuangkan bumbu mie instant, kemudian mencampurnya di dalam bungkus kemasan. Dia ambil mie mentah itu, memakannya dan sesaat kemudian dia mengambil air minum, meneguknya sampai habis. “Kenyang!” katanya mengakhiri.

“kalau kaya gitu makannya, yang ada bukan kenyang, tapi kembung” gumam Iin. Kami semua merasa putus asa. Kompor tidak lagi bisa menyala, suhu di ketinggian ini seolah telah membekukan dan menyumbat aliran dari tabung gas. Terpaksa, kami makan mie instan itu mentah-mentah.

“Zis, makan dulu” Iin membangunkan lelap Azis. Azis dengan cepat menerima mie instan mentah yang dibagikan Iin. Kami tidak tahu akan sampai kapan kami bertahan. Bekal makanan cadangan sudah digunakan kemarin. Hanya tersisa makanan ringan dan bahan minuman, dan segelas beras sisa cadangan kemarin. Kalau besok hari cerah, sisa bekal itu masih cukup dan kami masih bisa bertahan untuk sampai di Bambangan. Aku terus berdoa dan berharap, hanya untuk malam ini saja menunggu pagi di puncak gunung Slamet. Aku mulai putus asa. Angin telah memporak-porandakan tenda kami. Panci berisi air yang sedianya akan kami masak, tertiup angin dan tumpah membasahi alas tenda. Kedinginan yang menusuk. Mencoba untuk terus terjaga meski lelah dan kantuk menyiksaku. Meskipun tidak nyaman, Iin, Azis dan Baried coba memaksa untuk merebahkan diri dan tertidur.

“Tidur aja, Vi” Yayak menyarankan. Sepertinya dia memperhatikan aku yang menguap menahan kantuk berkali-kali. Aku menggeleng, aku tidak akan membiarkan dia terjaga sendiri. Kami coba menghalau sepi dengan berbagi cerita seadanya.

“kesampaian juga keinginanmu ngecamp di puncak..” katanya membuka obrolan. Aku tersenyum, teringat rencana pendakian yang aku susun sebelum presentasi kesiapan pendakian.

“Iya, ya…ternyata kaya gini rasanya ngecamp di puncak menunggu sunrise” kataku malu-malu karena aku kemarin coba mempertahankan rencana dan keinginanku untuk bisa melihat sunrise di puncak gunung sepagi mungkin. Sunrise yang sempurna.

“terus kenapa kemarin mau disarankan ngecamp di bawah?” tanya Yayak menyelidik. Pertanyaan yang tidak penting, pikirku. Aku tahu alasanku tidak akan memuaskan Yayak. Jawabanku bukan jawaban logis seperti yang dia harapkan. Semua berawal dari mimpi. Mimpi yang mengganggu tidurku di dua hari sebelum hari pendakian.

Masih jelas tergambar cerita mimpi itu. Di mana aku dan beberapa orang teman, yang aku tidak begitu jelas siapa, melakukan perjalanan ke suatu desa yang sangat terpencil. Ketika kami akan memasuki desa tersebut, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Penduduk desa berlarian. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kami terus melanjutkan perjalanan kami. Mimpi itu hanya sampai disitu, tapi berulang dengan cerita yang sama. Sempat terbersit mimpi itu ada hubungannya dengan pendakian ini, diyakinkan lagi dengan cerita pak Heri tentang wingitnya hutan gunung slamet dan gemuruh dari puncak gunung.

Tapi aku tidak pernah menceritakan mimpi itu. Rencana pendakian tetap berjalan hingga tiba di puncak gunung ini. Seharusnya kemarin aku mendengarkan hatiku! Seharusnya kemarin aku ceritakan mimpiku, bukan menyimpannya dalam hati dan membawanya dalam perjalanan ini. Seharusnya! Seharusnya aku bisa menahan Azis yang memaksa naik lebih dulu, setelah Doni, melarang kami untuk ke puncak. “Vi, kok malah ngelamun sih…” suara Yayak mengejutkanku. “Hujan sepertinya semakin deras” kataku datar. “setengah sebelas…” lanjutku. Pagi masih terlalu lama untuk dinanti. Kurasakan jaketku mulai basah, air hujan meresap masuk dari kain tenda. Iin terbangun dari tidurnya, diikuti Azis dan Baried. “waduh, basah semua” kata mereka hampir bersamaan. Frame tenda yang semula ditahan oleh tubuh Baried rupanya patah, air dengan mudah masuk ke dalam tenda. Kami coba untuk bertahan, duduk berjongkok di atas carrier, air hujan sudah menggenang di dalam tenda. Tengah malam yang menyiksa. Kami sudah tidak kuat lagi menahan frame tenda yang semakin kuat menghantam pundak dan bahu kami. Satu persatu frame itu patah, pecah, hancur dan ambruklah tenda kami. “ole… le…, Yud, Kim!!” Yayak berteriak memanggil Yudi dan Hakim. Tenda Doni terlihat sunyi. “Rescue!!” teriak Yayak lagi. Azis dan Baried mencoba menahan kain tenda dengan tangan mereka, sedikit memberi ruang untuk bertahan. Tidak terdengar sahutan. “Tenda hancur, Rescue!” akhirnya kami semua berteriak. Samar-samar terlihat nyala lampu senter dari tenda Doni. Suara riuh menggema di tengah kegelapan dan gemuruh suara angin. “Ok, kalian pindah!” suara Hakim memberikan jawaban. Satu per satu kami keluar tenda. Hawa dingin menusuk menyisakan rasa perih. Angin berhembus sangat kuat, kami harus berjalan membungkuk agar tidak terhempas oleh angin. Gelap yang pekat membuat kami kesulitan menemukan letak pintu tenda. Beberapa kali kami berjalan memutari tenda. Berjalan malam tanpa alas kaki, diterjang angin, menahan dingin, dengan pakaian yang basah. Lengkap sudah penderitaan kami.

“Don, senter di pintu!” teriakku. Doni dan Hakim segera mengarahkan senter mereka kearah pintu. Dan kami berhasil masuk bergabung dengan tim Kaliwadas II. Malam ini kami lalui dengan berdesakan di satu tenda yang seharusnya hanya untuk 6 orang.

Seharusnya aku mendengarkan semua yang diisyaratkan alam. Aku hanya bisa menahan perih dalam hati melihat keadaan sahabat-sahabatku. Agni mulai merintih karena maagnya kambuh, Adi membungkus tubuhnya dalam sleeping bag menahan pusing dan mual, Andi juga mulai demam dan bicara semaunya. Stress dan kelelahan yang menyatu. Ketika malam tiba, disaat setiap mata coba untuk terpejam, meskipun tidak bisa terlelap dan tidur, hanya ada tetes-tetes bening air mata kerinduan, kesakitan, dan keputusasaan.

Senin, 12 Februari 2001 Masih terjebak, entah akan mampukah bertahan menunggu hingga tiba saatnya untuk melangkahkan kaki keluar dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Iya pulang…hampir seminggu rumah penuh kehangatan itu aku tinggalkan, untuk sekedar menggapai puncak Gunung Slamet dan mendapatkan status keanggotaanku. Aku mulai merindukan rumahku, Ibuku, Bapakku, Adik dan semua orang yang barangkali sedang menunggu kepulanganku. Terlambat pulang tidak lagi bisa dihindarkan! Jumat telah berlalu, hari ini tidak lagi 9 Februari, lihatlah pergelangan tanganmu dan perhatikanlah, hari telah berganti.

Dan masih seperti kemarin, badai belum juga mereda. Dua belas orang masih tetap tidak bisa bergerak keluar, kecuali dengan berat dan enggan untuk sekedar buang air. Frame-frame penyangga tenda mulai hancur satu demi satu, bahkan pintu tenda Tidak lagi bisa ditutup rapat. Persediaan makanan pun entah masih cukupkah untuk melalui detik demi detik hingga badai ini mengijinkan kaki-kaki kecil ini melangkah untuk menemukan arah jalan mana yang bisa membawa kami turun dari puncak gunung ini. Arah yang benar, bukan seperti kemarin, hanya berputar-putar tidak tentu arah. Bahkan tali penuntun dan pemersatu itu pun tidak bisa menyatukan langkah untuk bersama-sama menemukan jalan.

Badai ini terlalu berat untuk dilalui. Apalagi kondisi beberapa kawan mulai terserang gejala hipotermia, waktu untuk pulang harus tertunda lagi. Memang harus dilalui barangkali badai panjang ini. ”Janganlah berjalan di depanku aku mungkin tak dapat mengikuti. Janganlah pula berjalan di belakangku aku mungkin tak dapat memimpin, tetapi berjalanlah seiring bersamaku dan jadilah sahabatku…” kalimat dari Albert Camus yang kemarin ku jadikan tema makalah filsafat manusiaku terlintas di tengah kepasrahan dan keputusasaan yang kian menjadi.

“Iya, kita harus terus bersama, tidak ada yang boleh jalan sendirian. Kita harus satukan hati untuk tetap bertahan. Tidak ada lagi yang akan merintih sendirian, tidak boleh ada pertengkaran, tidak akan ada lagi yang merasakan lapar kehabisan makan. Tangan kecil ini siap untuk berbagi kehangatan kawan…” niatku dalam hati.

Tidak lagi dalam lindungan tenda dan balutan sleeping bag. Hanya berlindung di antara bongkahan batu dan cerukan. Mimpi-mimpi buruk mulai menghantui setiap kepala, khawatir dan putus asa [barangkali] menjadi sesuatu yang wajar dalam kegelapan dan hantaman badai ini.

Menghitung detik demi detik berharap pagi akan segera datang, kelak badai sirna bersama dengan datangnya pagi. Pekat masih menyelimuti tanah Slamet, matahari hanya tampak seperti bola keputihan, tanpa memberikan kehangatan yang bisa menggantikan dingin ini meski untuk sesaat. Pasir dan kerikil masih asyik berlarian, sesekali menabrak makhluk-makhluk asing yang menggigil kedinginan.

Sakit, jelaslah, tapi semua hanya bisa dirasakan sendiri, bukan saat yang tepat untuk mengumbar keluhan dan rasa sakit. Bertahan dan terus bertahan untuk bisa melalui badai dan menemukan hari yang berlangit biru itulah satu-satunya yang bisa dilakukan.

Jumat telah berlalu di belakang. Kurang lebih 90 jam tubuh kurus ini mempertahankan hidupnya dalam balutan badai bersama sahabat. Akankah dia mampu untuk tetap seperti beberapa hari ini, sampai {barangkali} akan datang pada mereka pertolongan dan akankah malaikat–malaikat kehidupan memihak pada mereka? Mereka yang bersembunyi dan berlindung dalam sempitnya cerukan ini? Entah aku sendiri mulai dijamah kedinginan yang hebat, sesak membuatku tidak mampu lagi tersenyum dan membagi hangat tanganku pada kawan-kawanku. Menangis dan terus menguatkan diri itulah yang bisa kulakukan untuk menanti pagi. Aku harus bisa lalui dingin ini. Aku tidak boleh kalah…

“Ya, kamu harus bisa bertahan untuk menanti datangnya pagi. Kau telah lalui puluhan jam di sini, dan kau mampu sampai detik kedinginan tertinggi ini. Yakinlah, kau harus bisa bertahan, jangan menyerah hanya untuk menunggu esok hari ”. Tidak tahu suara dari mana itu, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Dan aku akan bertahan…

Di sisi lain, seorang kawan mempertaruhkan hidupnya untuk keluar dari belantara hutan dan hantaman badai demi sebuah pertolongan.

Perjalanan tim Kaliwadas II

Menjelang pukul sepuluh pagi badai mulai melunak walaupun sebenarnya terhitung masih bertiup kencang. Situasi ini membuat tim Kaliwadas yang dipimpin Iis lupa pada keputusan dan kesepakatan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak, melainkan turun melalui jalur Baturaden.

“melihat badai kemarin, aku khawatir kalau kita memaksa tetap lanjutkan ke puncak…” kata Dodo ditengah-tengah makan pagi. Dodo adalah salah satu pendamping di pendakian ini. Selain Dodo adalah Masrukhi.

“memang kenapa mas?” tanya Dewi ingin tahu.

No Comments
Jalan-Jalan

Catatan Atas Awan (part 3)

Sejak badai kemarin siang, kami masih belum beranjak dari shelter kedua kami. Puncak gunung Slamet sudah tidak jauh lagi. Dua jam perjalanan, kami akan sampai di sana. Tapi tidak hari…

Catatan Atas Awan (part 2)
Jalan-Jalan

Catatan Atas Awan (part 2)

“Yang penting nyaman kan? Aku nyaman dengan sandalku kok..” bantahnya memberi alasan. Pertimbangan pertimbangan logis dan keselamatan sudah tidak digubrisnya. Dan ini menjadi beban yang cukup mengganggu. “Aku harus siap…

Catatan Atas Awan (part 1)
Jalan-Jalan

Catatan Atas Awan (part 1)

Februari 2001 Sesakit apapun yang kau rasakan saat ini, itulah kenyataan hidup bagimu, dan catatlah itu dalam catatan sejarahmu, agar kelak kau bisa katakan ..aku pernah…dan aku belajar daripadanya. “Tidak!…

Lifestyle

Sunny Friday Weekend

XProin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate…

Lifestyle

One of Best View Ever

Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate…

Lifestyle

Sunday Family Walk

Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate…

Gimana Caranya Jalan-Jalan

My Travel Ideas

Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate…