Jalan-Jalan

Aceh Itu Provinsi Paling Kurang Ajar!

Aceh Itu Provinsi Paling Kurang Ajar

Ya, Aceh itu memang kurang ajar!

Nggak pernah nyangka ada provinsi yang begini bagusnya. Bagusnya emang kurang ajar banget. Nggak percaya kan kok sampe bisa gitu. Jadi begini ceritanya…..

Aceh yang terkenal dengan makanan khasnya Pisang Sale (Sale apa Saleh ini yang bener ya?) tapi jujur aja aku kurang begitu menggilai si pisang berwarna gelap ini. Aku sih lebih suka sama mie goreng, kalau di daerah lain nyebutnya ‘Mie Aceh’. Khusus untuk makan sendiri aku lebih memilih Mie Aceh kuah di Kede Kupi Ulee Kareng Gayo di dekat kampus USU.

Alasannya? Murah, dekat dan enak hehehe. Mie Aceh kuah di sana kurang ajar banget rasanya. Kadang malu mau pesan porsi kedua, soalnya waitressnya suka bisik-bisik sambil lihat ke mejaku.

Sebagai seorang backpacker pemula, aku dan tiga temen lainnya langsung menjadikan si provinsi paling dekat dengan kampung halaman ini dan paling terkenal dengan penerapan hukum syariat Islamnya sebagai destinasi pertama untuk dikelilingi.

Di momen inilah menjadi asal mula kenapa aku bilang kalau Aceh itu adalah provinsi paling kurang ajar (setidaknya inilah menurut aku).

Bisa anda bayangkan (kalau nggak bisa membayangkan, tolonglah… kamu pasti bisa kok, kali ini aja kamu pasti bisa ngebayangin), Kami yang berjumlah 4 orang ini nekat keliling provinsi Aceh naik sepeda motor. Satu vespa dan satu motor matic.

Ibuku bilang kalau kami ini sekumpulan orang gila. (Ibu banyak benernya nih)

Melakukan perjalanan dengan cara ridepacker (backpackeran pake motor) memang susah-susah gampang. Gampang karena bisa kesana kemari sesuka hati, nggak mikirin ntar naik angkot apa. Tapi, susahnya… kalau pas rasa lelah melanda dan tubuh minta istirahat segera, pokoknya  nggak pake ditunda maka menyimpan sepeda motor ini sangat sulit.

Kalau mau tiduran di pinggir jalan (ya, kami sering melakukannya) takutnya bisa menyebabkan kecelakaan, bisa-bisa jadi korban curanmor, soalnya kita berempat emang kayak kerbo kalau tidur. Dan banyak lagi kekhawatiran lainnya. Tempat satu-satunya yang kami singgahi nggak lain ya emperan toko.

Tapi nggak ada istilah emperan toko selama kami ridepacker di bumi Aceh, saudara-saudara!!!

Kurang ajarnya Aceh, provinsi ini menyediakan tempat semacam bale-bale hanya untuk sekedar tiduran, dan ini hamper ada di setiap SPBU yang ada di sepanjang jalan lintas sumatera di Aceh. Kan jadi suka aku tuuuu…

Nggak cuma itu! Di setiap masjid yang kami temui pasti ada tempat peristirahatannya (bukan teras Masjid ya!).

Di Sabang kami malah sempat bermalam di tempat peristirahatan yang ada di Masjid dekat pelabuhan (duh saya lupa nama Masjidnya)

Lebih kurang ajar lagi nih ya…

Waktu kami singgah di daerah Tapak Tuan,ada teman yang ngabarin kalau jalan yang harus kami lewati, yaitu di jalanan yang memiliki tebing menjulang tinggi dan langsung berbatasan dengan jurang, di bawahnya langsung lautan itu… telah terjadi longsor dan nggak bisa kami lewati.

Waduh, padahal kami harus sampe di Medan besok, jam berapapun itu. Cuti yang kami ambil cuma 5 hari, dan saat itu kami udah molor sehari gara-gara betah main di pantai Lhok Nga. Kalau molor sehari lagi, mungkin SP 3 udah nunggu kami di atas meja kerja.

Tapi namanya udah kepepet harus cepat pulang, ya kami masa bodoh aja. Pokoknya harus pulang. 

Kami tetap melaju, pas di lokasi yang dikatakan sama teman tadi kami mencari-cari kemacetan yang harusnya kan ada tuh gara-gara longsor.

nah lho… semulus itu lho jalannya.

Mana nih? cuma ada banyak pekerja konstruksi jalan lagi duduk-duduk ngaso sambil minum es teh manis dan kuku bima (ini bukan iklan sumpah!).

Iya sih, ada bekas longsor di sana. Remah-remah tanah dan batu yang udah pecah ke ukuran-ukuran kecil, tapi posisinya udah di pinggir jalan dan nggak menghalangi jalan kendaraan dari kedua arah sama sekali.

Namanya juga penasaran, jadi kami berhenti berani-beranian nanya ke bapak-bapak pekerja tadi.

“Pak, bukannya ada longsor ya di sini?”

“Udah bersih kak, tadi siang udah kami sorong pakai alat berat. Kakak udah bisa jalan.”

”Loh? Kapan memang longsornya pak?”  masih penasaran dong.

“Tadi pagi kak.”

Kami berempat terdiam. Pandang-pandangan. Lalu pamit pergi.

Ini ajib namanya, cepat banget ditindaklanjutin cuy! Belum lagi, jalan yang kami lewati dari banda Aceh ke arah Subulussalam nggak ada yang bisa disebut jelek. Apalagi di sepanjang jalan lintas barat Aceh, daerah yang terkena tsunami hampi 14 tahun lalu itu mulus dan lebar.

Nggak bisa gini nih. Kok bisa jalannya bagus. Kurang ajar bener.

Sampe-sampe jadi becandaan di antara kami yang udah 2 kali keliling aceh pake motor, padahal baru dua kali tapi hampir hafal jalannya. Kalau udah masuk ke daerah yang banyak lubangnya maka itu berarti kami udah nyampe di Sumatera Utara. Wow!

“Eh? Kita lagi di mana nih udah lewat Subulussalam ya?”

“kayaknya gitu deh”

“Udah di sumut kita wak, tengok ajalah jalannya, udah berlubang-lubang”

“Oh iya ya, kalau begitu selamat datang di kampung halaman, dengan ini trip Aceh kita sudah usai yah. Welcome Home gaeeessss.”

(pada pasang muka datar sambil jalan pelan-pelan karena banyak banget lubang di jalanan Subulussalam-Sidikalang)

Udah dua kali keliling Aceh tapi nggak kapok juga buat ngelakuinnya lagi. Pokoknya tahun depan harus terealisasi lagi ridepackernya! Bravo Aceh!

NB: Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kasar, semua karena suka cita saya yang mengungkapkannya menggunakan kata-kata frontal yang menakjubkan. Asek!

No Comments Found

Leave a Reply