Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 5)

Catatan di Atas Awan (part 5)

Catatan di Atas Awan di Puncak Gunung Slamet (5)  – “Melihat badai kemarin, aku khawatir kalau kita memaksa tetap lanjutkan ke puncak…” kata Dodo ditengah-tengah makan pagi. Dodo adalah salah satu pendamping di pendakian ini. Selain Dodo ada Masrukhi.

“Memang kenapa mas?” tanya Dewi ingin tahu.

“Ya aku khawatir aja, kalau badai datang lagi. Mungkin kita terjebak di tengah perjalanan, mungkin juga terserang mountain sickness, hypothermia, tersesat, jatuh atau kejadian lain yang diluar perkiraan kita…” kata Dodo memberikan penjelasan. Dewi hanya manggut – manggut mengiyakan. Walau sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana kondisi di puncak, bagaimana gejala mountain sickness, hypothermia. Dia hanya tahu sebatas teori seperti yang tertulis di diktat pendidikan dasar. “Tapi kalau misalnya kita gagal sampai puncak, pasti kalian kecewa” Dodo menambahkan.

Tim yang terdiri dari Gentur, Dewi, Bregas, fauzan, Dodo, dan Masrukhi bertekad untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Badai tidak lagi datang sampai batas waktu yang mereka perkirakan, meski kabut masih saja menyelimuti lereng gunung Slamet. Dengan perbekalan lampu senter sebagai pedoman dan penerang jalan menembus kabut, serta peluit satu-satunya alat komunikasi.

Dalam perjalanan setiap orang melindungi diri mereka dari hempasan badai. Bregas mengenakan jaket dilapisi ponco yang diikat dengan tali rafia di pinggang, Iis mengenakan baju lengan panjang dan dilapisi ponco yang juga diikat di pinggang, Dewi melapisi pakaiannya dengan raincoat, Gentur mengenakan jaket dan dilapisi dengan raincoat yang sudah tidak waterproof ditambah dengan helm yang dibawa dari rumah untuk melindungi kepala dari rontokan batu, Fauzan menggunakan dua lapis celana raincoat dan melapisi bajunya dengan raincoat yang masih waterproof, Masrukhi mengenakan celana pendek dan melapisi bajunya dengan raincoat, demikian juga dengan Dodo, hanya bedanya raincoat Dodo dipastikan sudah tidak waterproof. 

catatan di atas awan

Entah mengapa waktu itu mereka kembali memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, padahal mereka sudah memutuskan untuk turun, namun semuanya terjadi begitu saja. Mungkin juga karena ego yang terlalu besar untuk mencapai puncak. Atau kekhawatiran tidak akan diterima menjadi anggota karena gagal melakukan pendakian wajib? Entahlah. Yang pasti mereka memantapkan diri untuk menyentuh puncak Tugu Surono di ketinggian 3432 mdpl.

Beberapa saat setelah meninggalkan batas vegetasi mereka berhenti sejenak untuk mengisi botol minum yang telah kosong dari air di cerukan. Masrukhi berjalan di depan dan sesekali hilang dari pandangan tertutup kabut, dengan peluit dan teriakan mereka menyuruhnya berhenti. Sementara seperti perjalanan sebelumnya, Dodo berjalan paling belakang.

Sejak mereka meninggalkan ceruk di mana mereka mengambil air, angin kembali bertiup dengan kencangnya disertai dengan hujan yang datang dari arah samping. Badai datang kembali, bahkan lebih dahsyat. Seketika semua mulut terkunci, Tidak banyak kata-kata yang terucap. 

Semua dengan kedinginan yang menyusup begitu hebat dan pikiran yang barangkali tidak lagi sama. Jari-jari perlahan kaku, otot-otot wajah sulit digerakkan karena kedinginan. Sering terjadi batu yang mereka injak rontok dan berjatuhan mengancam keselamatan anggota tim yang berjalan di belakang.

Beruntung jika hanya kerikil yang berlarian lepas, tapi ketika batu sebesar kepala mulai rontok dan menghantam batuan yang lain hingga melenting, siap menghantam kepala mereka. Begitu mengerikan, kejadian ini membuat mereka berjalan sangat hati-hati dan pelan. Berjalan bergantian, satu berjalan naik yang lain diam di tempat yang aman dari longsoran. Di situasi yang tidak menyenangkan ini, tiba-tiba Masrukhi terpeleset. Beruntung dia mampu menghentikan proses jatuh itu sehingga tidak melorot jauh ke bawah.

Setibanya di bibir kawah mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bibir kawah kearah kanan menuju tugu Surono (puncak tertinggi). Tiba di Tugu Surono, meluapkan rasa syukurnya Gentur bersujud diikuti oleh Iis, Dewi, Fauzan dan Bregas. Sayang kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dodo datang dengan tergopoh gopoh mengabarkan kalau Masrukhi tidak mampu lagi berjalan dan berada di bibir kawah. Rencana foto di puncak untuk mengabadikan moment di tugu surono lenyap bersama deru angin yang kian menjadi.

Gentur, Bregas dan Fauzan kembali turun. Masrukhi sudah tidak mampu berjalan bahkan merangkak pun sudah sangat kepayahan. Dengan kekuatan yang masih ada, Masrukhi berjalan dengan dipapah Bregas dan Fauzan, sementara Gentur membawakan carrier Masrukhi.

Dengan susah payah Fauzan dan Bregas membawa Masrukhi untuk bergabung dengan teman-teman yang lain di tugu surono. Dibayang-bayangi kawah yang menganga di kiri mereka, setiap saat badai bisa saja melempar tubuh mereka ke dalamnya. Mereka masih berjuang, sementara Iis dan Dewi bersama Dodo sedang mempersiapkan tenda sebagai perlindungan darurat.

catatan di atas awan

“Sepertinya Masrukhi terserang hypothermia” begitu kata Dodo.Tanpa bantahan dan tanpa diskusi lebih panjang, pertolongan skin to skin harus segera diberikan. Dengan sisa panas tubuh yang masih ada, Bregas mendonorkan panas tubuhnya untuk Masrukhi. Suasana semakin mencekam, sesekali Masrukhi mengigau.

“Ambil kanan….kanan….” begitu begitu saja kalimat yang diucapkan Masrukhi saat mengigau. Barangkali alam bawah sadarnya masih terbawa ketika mereka masih berada di bibir kawah. Hipotermia yang menyerang Masrukhi rupanya cukup serius, dia tidak bisa merespon apapun. Mereka pun terpaksa menamparnya saat dia menunjukkan tanda-tanda akan tidur. Dia tidak boleh tidur, sedetik pun! Badai masih belum mau bersahabat, angin semakin liar mengirimkan hawa dingin ke dalam tenda. Gentur memaksakan diri untuk keluar dan membongkar satu tenda yang masih rapi tersimpan dalam carrier.

Di tengah hujan pasir dan hantaman badai gunung, Gentur berhasil melapisi tenda dengan tenda yang lebih besar, dia juga berhasil membawa puding hunkwe yang rencananya akan disantap saat pesta puncak. Suhu dalam tenda sedikit lebih hangat karena angin tidak lagi masuk. Masrukhi juga menunjukkan kondisi yang mulai membaik, dia sudah bisa merespon ucapan teman-temannya meskipun apa yang dikatakan tidak pernah berhubungan dengan apa yang teman-teman bicarakan.

Untuk sedikit mengganjal perut, Iis memberanikan diri menyuapi Masrukhi. Dengan kadar lemak, tepung dan gula yang ada pada hunkwe mereka berharap Masrukhi sedikit mendapat tenaga.

Meskipun mereka tidak berharap berlebihan itu akan membuatnya pulih dan mampu melanjutkan perjalanan ini. Nampaknya setelah makan puding, Masrukhi teringat rencana pesta puncak yang direncanakan.

Dalam keadaan setengah sadar berulang kali Masrukhi meminta coca cola. Jelas saja mereka tidak menuruti keinginannya mengingat suhu yang terlalu dingin untuk seorang penderita hypothermia. Bahkan botol coca cola itu mereka biarkan utuh dengan segelnya, tidak tersentuh sama sekali.

Lambat laun kesadaran Masrukhi membaik. Kalimat dan ucapannya mulai terarah. Bahkan beberapa kali dia mengucapkan kata-kata dalam bahasa tegal yang terdengar sangat menggelikan di telinga teman-temannya. Usaha dan penantian di puncak tugu surono tidak sia sia. Masrukhi sudah mulai bisa bercanda lagi.

“Sepertinya suhu tubuh Masrukhi mulai pulih. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera tiba di batas vegetasi hari ini juga. Kita akan mendirikan camp di sana untuk memulihkan suhu tubuh dan tenaga kita, sebelum turun melalui jalur Bambangan,” usul Dodo dan langsung mendapat persetujuan teman-teman yang lain.

catatan di atas awan

Rasa lelah dan kedinginan menghantui setiap anggota tim. Tapi mereka harus bergerak dan mengemasi barang-barang untuk melanjutkan perjalanan turun ke batas vegetasi. Di luar perkiraan, ketika teman-teman siap melanjutkan perjalanan, Masrukhi rupanya belum mampu mengangkat carriernya sendiri. Gentur mendekat dan membantunya mengangkat carrier sementara teman-teman yang lain sudah berjalan perlahan di depan.

Masrukhi mencoba untuk berjalan, tapi rupanya kondisi fisiknya belum seratus persen pulih, kaki Masrukhi masih belum kuat untuk menopang berat tubuh dan carriernya. Masrukhi berjalan sempoyongan terseok seperti orang mabuk.

“Do’, lebih baik kita ngecamp lagi Do. Supaya dia bisa istirahat. Kalau begini caranya, kita maksain turun, kita bisa bunuh dia Do!” suara Fauzan memecah kepayahan di antara gemuruh angin.

“Iya, kita akan buka camp lagi” jawab Dodo tegas. Iis, Dewi dan Bregas yang sudah berjalan beberapa meter di depan dipanggil kembali. Tenda mereka dirikan di tempat sama. Angin bertiup lebih hebat bahkan tenda yang mereka dirikan terlipat hingga sudutnya bertemu. Carrier mereka masukkan lebih dulu untuk mengganjal kerangka tenda agar tidak patah. Setelah tenda didirikan, angin masih saja menghajar tenda mereka, terpaksa mereka harus duduk di atas carrier dan menahan goncangan kerangka tenda dengan punggung. Semua terjaga, duduk di sudut tenda sementara Masrukhi berada di tengah di mana posisi dirasa paling hangat dan terlindung.

Waktu terus berputar, tapi hari masih sama. Sepanjang siang mereka berjuang menghadapi badai, terjatuh terseok, dua kali mereka harus mendirikan tenda darurat karena teman mereka terserang hypothermia. Mereka coba untuk bersabar dan terus berdoa sebisa mereka. Mereka tidak bisa menjalankan sholat dengan selayaknya, karena mereka tidak bisa bergerak lebih leluasa selain meringkuk dan berjongkok untuk menghadap Tuhan. Mereka hanya berharap besok mereka bisa melanjutkan perjalanan untuk kembali.

catatan di atas awan

Akhirnya pagi datang juga. Udara dingin membuat mereka malas untuk segera membongkar tenda. Beberapa saat lamanya pagi mereka lalui dengan bermalas-malasan di dalam tenda sambil mengumpulkan energi yang terkuras seharian kemarin. Satu demi satu perlengkapan mereka benahi dan saat packing pagi itu mereka menyadari beberapa barang yang mereka letakkan di luar tenda hilang. Mungkin diterbangkan oleh angin. Tanpa menghiraukan barang-barang mereka yang hilang, mereka bergegas melanjutkan perjalanan menuju Bambangan. Untuk pertama kalinya Dodo berjalan paling depan. Kabut masih menyelimuti dan angin masih cukup kencang, meski tidak sekencang kemarin. Satu-satunya pedoman yang mereka jadikan penunjuk jalan adalah sampah.

“Kita ikuti sisa-sisa sampah. Biasanya sampah akan banyak berserakan di sepanjang jalur pendakian…” begitu kata Dodo memberi petunjuk.

Mula-mula jalan yang mereka lalui cukup jelas meski tersamar oleh kabut, hingga suatu ketika mereka harus berjalan naik dan itu membuat mereka ngos-ngosan.

“Lho, Do’ ! Kita kan mau turun, kok malah naik lagi?”

Mendengar pertanyaan itu Dodo menghentikan langkahnya dan kembali turun bergabung dengan teman teman yang mengikutinya di belakang.

“Tur, dirimu berjalan di depan, nyari jalan!” kata Dodo kemudian. Tanpa pertanyaan dan bantahan Gentur berjalan di depan dan mulai membantu Dodo untuk mencari jalan. Keduanya jalan turun mengikuti sampah yang berserakan hingga pada suatu saat mereka menyadari sampah sudah tidak mereka temui, mereka tidak lagi berjalan mengikuti sampah tapi mereka mencari sampah…dan mereka tidak lagi menemukan petunjuk itu.

“Do…Tur..berhenti…!” terdengar teriakan dari belakang. Seketika Gentur dan Dodo menghentikan langkah mereka.

“Masrukhi sakit!” teriakan itu terdengar lagi.

“Bawa turun ke sini, di cerukan..!” Dodo menanggapi teriakan itu. Cerukan, iya itu satu-satunya tempat yang dirasa paling terlindung dari hembusan angin yang terlalu kuat.

“Nggak bisa mas..” jawab Iis kemudian. Sesaat tidak ada lagi suara.

“Tur dirimu naik, bantu mereka. Saya sudah tidak kuat lagi…” kata Dodo lirih tapi cukup jelas terdengar di telinga Gentur. Ada ragu yang bergelayut di mata Gentur dengan apa yang baru saja didengarnya. “Saya tidak kuat lagi…” ulang Gentur dalam hati. Ada rasa yang mengganjal di benak Gentur. Dan itu membuatnya tidak begitu bersemangat untuk naik dan melihat kondisi Masrukhi. Egonya mulai bermain, detik itu.

“Karena dia senior dan pendamping, pastilah dia kuat” batin Gentur lagi. Tanpa dia tahu, rupanya Dodo terserang kram otot. Dodo menyandarkan tubuhnya di batuan cerukan sementara Gentur menemui teman temannya untuk memberikan bantuan. Di tengah perjalanan dia bertemu Dewi.

catatan di atas awan

“Wi’ kamu temani Dodo. Dia ada di cerukan situ…” kata Gentur memberi petunjuk keberadaan Dodo. Dewi Tidak menjawab apapun selain terus berjalan mengikuti petunjuk Gentur. Di tempat lain, carrier Masrukhi sudah berada di dasar jurang. Fauzan dan Bregas sekuat tenaga menahan tubuh Masrukhi yang hampir terjatuh. Dia mulai mengigau lagi, kata-kata yang dia ucapkan sudah tidak terbaca. Masrukhi terserang Hipotermia lagi, dan sekarang lebih parah. Posisi yang nyaris masuk jurang dan keadaan lereng yang curam ditambah kondisi fisik yang telah terkuras membuat usaha membawa Masrukhi ke dalam cerukan sulit dilakukan.

Diantara himpitan batuan gunung Slamet, tiupan badai, dan keinginan untuk menyelamatkan seorang sahabat. Terdengar suara rombongan pendaki lain. Hanya suara. Dan dari suara itu menunjukkan rombongan itu tidak terlalu jauh dari posisi mereka.

“Tolong…” teriak Gentur meminta tolong. Beberapa kali Gentur berteriak ke arah rombongan itu, tapi sepertinya tidak ada seorang pun yang membalas teriakan Gentur. Tidak kehilangan akal, Gentur memanfaatkan peluit sekeras-kerasnya. Berharap kali ini isyarat itu terdengar dan pertolongan akan datang. Tidak sia-sia usaha Gentur memanggil rombongan itu, samar-samar Gentur mendengar rombongan itu memberi jawaban, tapi sayang tidak seorangpun yang mendengar dengan jelas apa jawaban dari rombongan itu. Untuk memperjelas komunikasi dan meminta bantuan, Dewi berusaha mendekati rombongan itu.

Tidak berapa lama, salah satu dari rombongan mendatangi mereka di cerukan. Saat itu kondisi fisik dan mental mereka sangat menurun. Kondisi tempat yang miring, sempit dan tidak rata membuat mereka tidak bisa mendirikan tenda untuk menolong Masrukhi. Satu-satunya yang bisa menghangatkan dia hanyalah sleeping bag. Masrukhi berada di pangkuan Dodo dan Iis. Pendaki itu memeriksa kondisi Masrukhi yang mulai mengerang kesakitan. Kemudian pendaki itu meminjamkan jaket merahnya untuk dipakai Masrukhi.

catatan atas awan

“Jalur pendakian di sebelah mana mas?” tanya Gentur pada si pendaki.

“Di sebelah kanan, tapi dari sini bisa juga turun, nanti di bawah ketemu” jawabnya.

“Teman-temanmu bisa dibawa kesini nggak mas?” tanya Dodo.

“Teman-teman saya sudah berada di batas vegetasi, mas. Oiya, carrier mbak Dewi yang mana ya?” mereka tidak mengerti maksud jawaban si pendaki. Spontan mereka tunjukkan carrier Dewi dan pendaki itu segera menyandangnya di punggung. Dewi akan turun bersama rombongan pendaki itu…

Bayang tubuh Dewi dan sekelompok pendaki tersapu kabut, menghilang di balik bebatuan puncak gunung Slamet. Seperginya si pendaki bersama Dewi, Gentur, Bregas dan Fauzan masih berusaha menolong Masrukhi. Tetapi belum sempat jaket pinjaman itu melindungi tubuh Masrukhi, tangan Masrukhi bergerak. Seolah ada yang ingin dia gapai. Tidak berlangsung lama, tangan itu perlahan melemas dan tidak bergerak sama sekali. Sekejap sunyi mengercap diantara mereka. Sunyi hanya terdengar suara deru angin dan bebatuan yang bertumbukan dengan batuan lain.

bersambung….

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply