Jalan-Jalan

Catatan Atas Awan (part 1)

Catatan Atas Awan (part 1)

Februari 2001

Sesakit apapun yang kau rasakan saat ini, itulah kenyataan hidup bagimu, dan catatlah itu dalam catatan sejarahmu, agar kelak kau bisa katakan ..aku pernah…dan aku belajar daripadanya.

“Tidak! Perjalanan ini hanya akan kita lakukan saat cuaca baik. Aku tidak mau pertaruhkan nyawaku untuk ikut perjalanan ini!” teriakan itu muncul dari balik jendela kamar Noel.

“Kalau menunggu cuaca baik itu artinya melewati batas waktu yang sudah diberikan. Semua harus kita selesaikan bulan ini juga, Noel….”

“Lagi pula kalau menunggu cuaca baik, kita juga gak tau pasti kapan…Toh kita melakukan perjalanan ini tidak sendirian kan, kita tetep akan ada pendampingan dari senior. Ga bakal kenapa napa deh…”

Perdebatan malam itu tidak menemukan kesepakatan yang menyenangkan, Noel terpaksa mengundurkan diri dari Tim, dan itu menyisakan keganjilan diantara teman teman yang terlibat dalam perjalanan kali ini.

Ini bukan pertama kalinya aku melakukan pendakian. Hanya saja pendakian kali ini bukan pendakian seperti sebelumnya.

Ada tugas yang harus aku dan teman teman kerjakan sebagai syarat untuk bergabung dan diterima di komunitas pencinta alam di salah satu universitas negeri terkemuka di Jogja.

Pendakian ini namanya Wajib Gunung. Awalnya lokasi yang dipilih adalah gunung Merapi, tetapi mengingat kondisi gunung Merapi yang “AWAS” maka pendakian dialihkan ke gunung Slamet.

Bukan tanpa pertimbangan, gunung Slamet dipandang mempunyai karakteristik yang tidak terlalu jauh berbeda dengan gunung Merapi. Selain sama sama masih aktif, jenis batuan relatif sama yaitu batuan andesit, dilihat dari batas vegetasi (Plawangan) hingga ke puncak merupakan batuan lepas, berpasir dan merupakan lereng yang cukup terjal. Dan yang pasti keduanya masih di pulau Jawa. Ya, lokasi yang diambil memang tidak terlalu jauh karena pendakian ini pendakian dalam rangka pendidikan lanjut setelah pendidikan dasar kepencintaalaman.

Perjalanan ini akan diikuti beberapa orang yang terbagi dalam 4 kelompok. Dua tim akan memulai pendakian dengan mengambil entry point di jalur pendakian Baturaden, dan dua lainnya mengambil entry point di jalur pendakian desa Kaliwadas. Masing-masing tim didampingi oleh dua orang senior. Untuk menghindari penumpukan jumlah pendaki, maka setiap tim berangkat dari Jogja selang satu hari dari tim yang lain.

Seperti kesepakatan terakhir, Noel memutuskan untuk mundur dari tim. Tersisalah 4 orang. Aku, Iin, Baried, dan Azis. Rupanya yang memutuskan untuk tidak bergabung tidak hanya Noel, seorang pendamping yang sudah ditentukan oleh pengurus mendadak mengundurkan diri karena alasan kuliah. Ya apa boleh buat, perjalanan ini tetap harus berjalan, ada atau tidak adanya mereka. Toh dengan pengalaman dan pengetahuan Yayak cukup meyakinkan kami untuk tidak mundur atau ragu. Apalagi, kami bukan tim yang pertama akan melewati jalur pendakian Baturaden. Sehari sebelumnya, tim Baturaden I yang didampingi oleh Wiwid dan Ndaru sudah melakukan pendakian. Jadi, kami tinggal mengikuti jejak mereka saja untuk tiba di puncak gunung Slamet.

Setelah subuh kami meninggalkan Jogja menuju Purwokerto. Semua bertemu di terminal Umbulharjo di halte jurusan Jogja – Purwokerto. Sengaja memilih berangkat dengan bus karena lebih cepat dan dipastikan dapat tempat duduk. Kami tidak mau bertaruh dengan naik kereta akan mendapat kenyamanan yang sama dengan bus.

Carier yang kami bawa juga akan lebih aman dan yang pasti kami tidak harus setiap detik mengawasi, karena semua masuk di bagasi. Perjalanan akan kami tempuh kurang lebih 4 jam. Waktu yang lebih dari cukup untuk tidur lagi membayar begadang semalaman menyiapkan perlengkapan. Bus melaju ke arah barat, meninggalkan kota jogja yang masih tampak lengang. Setelah kondektur meminta ongkos, selesailah tugas kami. Tanpa ngobrol lama, mata yang masih menyisakan kantuk kembali merapat, dengan kepala bersandar nyaman di sandaran kursi.

Tim Baturaden II (Nevi, Iin, Azis, Baried, Yayak)

Tidak terlalu sulit untuk menemukan entry point pendakian. Cukup sebutkan “mau ke Slamet” sopir angkot akan mengantar hingga jalan setapak di pertengahan hutan. Ya jalur Baturaden memang cukup ramai, karena Baturaden merupakan objek wisata cukup terkenal di Purwokerto. Di dalam hutan ada jalan aspal meski tidak seberapa lebar, dan itu sangat memudahkan awal perjalanan kami.

Matahari bersinar cukup hangat. Sengaja kami memulai perjalanan pagi pagi, agar bisa mencapai target lokasi dan tidak terlalu ngoyo.

Kami harus mengkondisikan diri dengan beban carier yang cukup berat, dan penurunan kadar oksigen di setiap ketinggian yang kami capai. Semakin tinggi lokasi yang kami lalui, semakin tipis oksigen yang tersedia. Beberapa kali kami harus berhenti untuk mengatur pernapasan.

“tunggu…pelan-pelan aja..” teriak Azis di satu jam perjalanan masuk hutan Baturaden. Yayak yang berjalan paling belakang sebagai sweeper hanya tersenyum setiap kali Azis merebahkan tubuhnya bersandar di akar pohon yang tumbuh di permukaan. Hutan yang lebat, pohon-pohon menjulang dengan batang yang besar, dan akar yang muncul di permukaan tanah. Sejak isi carier kami bertambah dengan 5 liter air, perjalanan memang menjadi bertambah berat. Dan itu sangat terasa oleh Azis.

“Istirahat aja dulu, jangan mengeluh…” kataku. Aku teringat pesan pak Dusun tempat kami singgah kemarin malam.

“Kalau ndaki gunung, jangan mengeluh, nanti capek beneran. Trus jangan buang air sembarangan, minta ijin dulu. Ya percaya atau tidak, hutan gunung Slamet ini masih wingit – sering terjadi hal hal aneh” begitu katanya memberi pesan.

“Gunung Slamet kan masih aktif kan ya, Pak? Pernah meletus kaya gunung Merapi apa tidak?” tanya Azis ingin tahu.

“Iya memang masih aktif, tapi tidak seaktif gunung Merapi. Lagipula lubang kawahnya luas jadi kalaupun meletus tidak terlalu berbahaya…”

“Kalau mau meletus tanda tandanya seperti apa, Pak?” kali ini aku ikut nimbrung, ingin tahu juga.

“Biasanya di sini kalau ada bencana, tandanya ada suara gemuruh dari atas gunung…” jawab Pak Heri, sambil memandang jauh ke arah gunung. Pak Heri tidak menjelaskan lebih jauh gemuruh seperti apa yang dimaksud. Kami pun tidak bertanya lebih banyak, karena bu Heri datang membawakan mendoan goreng khas Purwokerto. Seketika hangatnya mendoan, sambal kecap dan segelas teh manis lebih menarik perhatian kami.

Jejak-jejak kaki kecil kami semakin jauh meninggalkan perkampungan di sekitar Baturaden. Gemericik air sesekali terdengar di sepanjang jalur yang kami lewati. Hutan tropis yang megah. Pohon-pohon berbatang raksasa begitu mudah kami temui, kicau burung riang menemani selama perjalanan. Tidak hanya itu, makhluk kecil penghuni hutan Slamet kadang membuat kami ketakutan, Lintah. Entah berapa puluh atau bahkan ratusan lintah yang sudah kami temui. Mereka kadang terlalu lincah hingga celana panjang saja masih bisa dia lewati. Apa boleh buat, dengan terpaksa kami menjadi donor darah untuk makhluk-makhluk berbadan empuk itu. Beberapa kali kami berhenti untuk melepaskan gigitan lintah di kaki. Pada awal pertama digigit, Azis mencabut paksa lintah yang menggendut kekenyangan menghisap darah Azis. Akibatnya, gigitan itu melukai kaki Azis. Untungnya tidak seberapa parah, hanya luka kecil, dia masih bisa terus berjalan.

Pemandangan yang elok. Dari puncak punggungan sesekali kami melepaskan pandang jauh ke bawah. Hari yang cerah, matahari cukup terik, walau nggak terasa panasnya. Kanopi pepohonan di sepanjang perjalanan cukup memayungi langkah kami. Langit biru tanpa awan. Cuaca hari ini memberi semangat lebih. Yah, hujan badai sepertinya akan jauh dari pendakian kali ini. Meskipun bulan Februari masih masuk bulan musim penghujan, tapi lihat saja sinar matahari dan langit yang biru seolah menjadi sumber penerang paling sempurna untuk menikmati indahnya lembah dan kaki gunung. Dari ketinggian, kepulan asap terbang semakin tinggi dari perkampungan di bawah. Garis putih seolah menyatukan langit dan bumi. “lihat, itu pantai…” teriak Baried begitu bersemangat menunjuk jauh ke arah selatan. Iya di ujung selatan pulau jawa memang pantai, tapi kalau pantai itu terlihat dari puncak punggungan ini aku juga tidak yakin.

“Masak sih?” tanya Iin setengah protes. Azis juga tidak mau ketinggalan. Dia mengeluarkan kamera poket manualnya, mengambil angle yang dirasa bagus, dan kami mengabadikan moment itu.

Sambil istirahat siang, menikmati keagungan Tuhan melalui semua yang Dia ciptakan. Kadang manusia lupa, betapa sesungguhnya mereka adalah makhluk-makhluk kecil dengan ego yang sangat besar. Ego itu yang tanpa disadari mampu menghancurkan segalanya.

“Ok, kita lanjutkan perjalanan…jangan keasyikan di sini…” suara Yayak membuyarkan kekaguman kami. Carier seberat 20 kg kami sandang lagi, hampir menutup separuh tubuh. Sebelum meneruskan langkah, kami memberi tanda di peta jalur yang sudah kami lewati.

Beberapa menit kami juga berusaha memperkirakan jarak yang harus ditempuh hingga tiba di pos II.

“Kita buka camp jangan di pos II ya…” kataku setengah berbisik pada Yayak.

“tergantung kondisi tim, cuaca dan waktu…”

Jawaban Yayak membuatku berpikir ulang. “Cuaca bagus, angin juga gak terlalu kencang, kontur di peta juga ga begitu terjal…” batinku meyakinkan diri sendiri kalau pos II akan terlewati.

“Ok, kita berangkat!” kataku memberi komando.

Perjalanan menuju pos II mulai menanjak, sekali ada jalan datar, bonus untuk jalan lebih cepat. Sepanjang jalur pendakian Baturaden memang tidak terlalu jelas pos yang dimaksud.

Setiap pendaki punya nama dan pos sendiri, suka suka mereka membuat shelter. Tapi yang santer terdengar adalah bahwa di pos II sering terjadi hal-hal aneh. Seperti yang dikatakan pak kadus Heri, hutan gunung Slamet masih wingit. Ada cerita juga kalau di pos II dulu pernah ada yang meninggal.

Ampun deh…ya jujur, biar aku didaulat jadi koordinator tim, tetep keder juga dengan yang begituan. Sumpah…makanya aku ga mau ngecamp di pos II. Aku sendiri juga ga tau pos II disebelah mana…sebenarnya dibohongi letak pos II juga aku nggak tau.

Pikiran buruk tentang pos II dan seluk beluknya sekejap terlupakan oleh medan yang semakin berat dan jalan setapak yang tidak begitu jelas. Kami harus menjaga jarak dan berhenti beberapa kali karena Azis tertinggal di belakang. Karena sibuk berurusan dengan lintah Azis memilih jalan di paling belakang. Meskipun kami sudah melarangnya, tapi dia tetap keras kepala untuk jalan di belakang.

“tar kalo aku jalan di depan, kita bakal sering berhenti…’ katanya memberi alasan.

Terbersit kekhawatiranku tentang Azis. Sepanjang perjalanan dia lebih banyak mengeluh, berhenti seenaknya sendiri, tanpa memberi tahu. Dan yang kami sesalkan, dia hanya menggunakan sandal gunung. Sebelum memulai pendakian baried sempat menawarkan sepatu cadangannya untuk dipakai Azis, tapi Azis menolak.

“yang penting nyaman kan? Aku nyaman dengan sandalku kok..” bantahnya memberi alasan. Pertimbangan-pertimbangan logis dan keselamatan sudah tidak digubrisnya. Dan ini menjadi beban yang cukup mengganggu. “Aku harus siap dengan semua kemungkinan” pikirku memberanikan diri.

Bersambung…..

Catatan Atas Awan (part 1)

Catatan Atas Awan (part 2)

Catatan Atas Awan (part 3)

Catatan Atas Awan (part 4)

Catatan Atas Awan (part 5)

Catatan Atas Awan (part 6)

Catatan Atas Awan (part 7)

Catatan Atas Awan (part 8)

Catatan Atas Awan (part 9)

Tulisan asli ada di sini >> Link asli >>> http://www.kemudian.com/node/253734

No Comments Found

Leave a Reply