Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 2)

Catatan di Atas Awan (part 2)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 2)

“Yang penting nyaman kan? Aku nyaman dengan sandalku kok..” bantahnya memberi alasan. Pertimbangan pertimbangan logis dan keselamatan sudah tidak digubrisnya. Dan ini menjadi beban yang cukup mengganggu. “Aku harus siap dengan semua kemungkinan” pikirku memberanikan diri.

Kekhawatiranku berujung nyata. Menjelang pukul tiga sore langit mulai berbayang awan hitam. Matahari tidak tampak lagi. Angin berhembus terasa sampai kulit. Daun-daun bergoyang kegirangan kesana kemari tertiup angin. Spontan kaki kami melangkah lebih panjang, berharap bisa sampai di shelter sebelum hujan turun. Langkah itu rupanya membuat kami meninggalkan Azis jauh di belakang. Menunggu dan membuang waktu, berkali kami lakukan. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi kalau Azis mau menggunakan sepatu Baried.

“Maaf, sandalku licin jadi aku ga bisa jalan cepat…” kata Azis menegaskan keterlambatannya. Aku hanya bisa menghela napas panjang. Ingin sekali aku marah dan memakinya, tapi aku tidak bisa serta merta lakukan itu. Justru aku dituntut untuk menyelesaikan semua persoalan yang mungkin terjadi selama pendakian ini. “Aku harus lebih kuat dan lebih sabar,” batinku menghibur diri.

Di perhentian ketiga menunggu Azis bergabung, langit mulai menitikkan tetes-tetes air. Gerimis mulai menjamahi hutan gunung Slamet.

“Zis, ayo…lebih cepat, hujan segera turun!” teriak Baried mendapati sudah beberapa lama menunggu Azis masih belum muncul. Iin memanfaatkan waktu membuka jas hujannya, sementara aku dan Yayak mencoba memperkirakan cuaca.

Catatan di Atas Awan

“Yak, ngerasa aneh ga seh? Lihat burung yang terbang mengikuti perjalanan kita gak?” tanyaku pelan. Yayak mencoba mengamati sekitar. Kemudian dia menggeleng. Ada gelisah yang sangat kupahami menyusup dalam jiwaku. Gelisah yang tidak akan terpahami oleh orang lain, gelisah yang mungkin bila kuceritakan akan berbuah tawa dan aya aya wae…begitu kata orang sunda. Percakapanku dengan Yayak tidak berlanjut. Azis melangkah mendekat dengan keringat sebesar biji jagung. Iin siap dengan ponco birunya dan Baried bertambah besar bentuk tubuhnya dengan raincoat warna merahnya.

“wah, sandalku putus…!” keluh Azis. “jadi tadi benerin dulu” lanjutnya.

“kita langsung lanjut, Zis?” tanyaku atau lebih tepat sebuah ajakan. Azis mengangguk mantap, dia juga tidak mau kehujanan, karena itu akan sangat merepotkan langkahnya.

Hujan masih gerimis, langit rupanya masih malu-malu untuk menangis. Atau barangkali memang hanya akan gerimis. Di ketinggian seperti ini memang sering terjadi gerimis, hujan yang disebabkan oleh kelembaban suhu udara.

“Hujan selamat datang neh kayanya…” kataku memecah kebisuan.

“Hujan selamat datang gimana, enakan juga sunset kalau ngasih ucapan selamat datang. Jangan hujan dong” kata Iin menimpali.

“Kalau hujan, persediaan air kita nambah, ga perlu nyari di lembah…ya nggak?” kali ini Baried menyampaikan pendapatnya.

“Iya, gua capek naik turun lembah cuma buat ngambil air. Kalau hujan, kita letak aja nesting di luar tenda, pasti terisi air penuh…” Azis tidak mau ketinggalan.

Catatan di Atas Awan

Perdebatan hujan dan sunset masih terus bergulir meramaikan perjalanan yang mulai mendekati kesunyian hutan. Hari akan beranjak sore, menuju gelap. Gerimis mulai datang lebih deras dan kilatan petir tampak di kejauhan. Hujan segera turun.

Mencari tempat untuk mendirikan shelter itu satu-satunya yang terpikir olehku. Jalan ini terlalu rimbun dan tanahnya terlalu sempit untuk didirikan tenda. Kami melanjutkan langkah beberapa meter ke depan. Azis dan Baried berjalan lebih dulu untuk mencari tempat yang lebih datar.

“ole le…” teriak mereka memberi kode. Segera kami menyusul mereka. Sial, tempat yang mereka temukan terlalu terbuka. Akhirnya kami jalan lagi. Di tengah hujan yang mulai deras, setiap tanah datar menjadi harapan kami. Butuh satu tempat yang agak luas agar 2 tenda kami bisa berdiri.

“Ok, kita akan buat camp di sini!”

Dua tenda didirikan di tengah hujan dan kilatan petir. Setelah satu tenda berhasil didirikan, aku dan Iin memasak air untuk minum, sekedar penghangat. Ini shelter pertama kami. Puncak gunung slamet masih jauh di atas. Kami baru menyelesaikan separuh panjangnya perjalanan.

Pagi bersinar secerah kemarin. Setelah sarapan pagi kami lanjutkan perjalanan. Masih panjang lintasan yang harus kami tempuh. Masih menunggu terjalnya medan dan yang pasti lintah si binatang penghisap akan selalu menyambut di sepanjang jalur pendakian. Kali ini menghindari gigitan Lintah, Azis melumuri tubuhnya dengan minyak kayu putih. Sayang rupanya itu bukan jurus yang ampuh untuk menaklukkan lintah. Panasnya minyak kayu putih, bercampur keringat, terasa membakar di sekujur tubuh Azis. Dan dia harus menahan itu di sepanjang perjalanan.

Jalan yang kami lalui di hari kedua pendakian ini tidak lagi bisa dibilang mudah. Tidak banyak jalan datar. Setiap jengkal yang kami lalui selalu dihadapkan pada tanjakan dan tanjakan. Dingin juga mulai terasa lebih dari hari sebelumnya. Pastinya setiap ketinggian yang kami capai, kadar oksigennya semakin menipis. Kami harus hati-hati dengan kondisi itu.

Catatan di Atas Awan

“Yak, mentok ga ada jalan lagi…” teriak Baried. Sengaja jarak kami memang agak renggang, karena menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tapi tentu saja dengan jarak pandang yang masih bisa dikontrol. Kami segera menyusul Baried yang hari ini bertugas sebagai pembuka jalan. Benar, setapak yang kami lalui habis. Sebelah kanan dan kiri lembah yang subur. Tidak mungkin ada jalan di situ. Iin, Azis dan Baried berjalan menyebar, memastikan ada setapak. Aku dan Yayak memastikan posisi kami di peta. Benar, tidak ada yang salah. Memang kontur di peta sangat rapat, itu artinya ada tanjakan atau tebing yang cukup terjal. Tapi dimana? Hampir setengah jam, kami habisnya waktu mencari jalan setapak.

Catatan Atas Awan (part 2)

“Hai, ada rafia dan patahan pohon…” teriak Iin kegirangan. “Itu pasti jejak dari kelompok Baturaden I” kataku kemudian. Tanjakan yang cukup terjal, hampir mendekati 90 derajat. Pantas saja kami kesulitan menemukan jalan. Apa boleh buat, memang itu jalan yang harus kami lewati. Berpegang pada akar dan batang pohon, Baried naik lebih dulu.

Ujung sepatu trakingnya beberapa kali dihentakan di tebing tanah setinggi 2 meter itu untuk membuat jalan serupa tangga. Iin menyusul ke atas setelah Baried tiba dan meletakkan cariernya, agar lebih mudah menarik yang lain. Azis melepaskan sandal gunung andalannya. Dia terlihat kerepotan. “Zis, lempar aja sandalnya…” kata Baried menyiapkan diri untuk menangkap sandal Azis. Azis menurut. Tanpa alas kaki Azis pun merambat naik.

“Aduh !” tiba tiba Azis berteriak kesakitan. Dia terjatuh setelah naik beberapa meter. Di saat yang bersamaan, sisi lain dari hatiku tergetar oleh suara burung yang sepanjang hari kemarin mengikuti perjalanan kami. “Dia datang lagi…” batinku. Aku tidak tahu burung jenis apa itu. Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Setiap kali burung itu terbang di antara perjalanan pendakian ini selalu menimbulkan perasaan khawatir yang berlebihan. Tapi aku hanya bisa simpan sendiri kegelisahan itu.

“Kamu ga papa Zis?” tanya Yayak. Azis tak bersuara, hanya menggeleng sambil meringis kesakitan.

“serius, gak papa?” tanyaku ragu.

“gak papa, akar pohonnya ga kuat nahan badan gue..” kata Azis sambil terus mencari akar atau batang pohon yang bisa membantunya naik.

Burung kecil itu masih terbang memutar. Sesekali hinggap di ranting pohon yang tidak terlalu tinggi. Sesekali itu juga aku menatapnya, mencoba bercakap dengannya meski aku tahu aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun. “Burung yang aneh….” Aku yakin tidak ada seorangpun dari tim ini yang memperdulikan keberadaan burung warna merah itu, kecuali aku. Aku cukup terganggu dengan ulahnya. Gaya terbang dan suaranya semakin keras seiring bertambahnya ketinggian pendakian ini.

Catatan di Atas Awan

Jalan setapak yang dilalui tidak sejelas jalur di bawah sebelumnya. Terlalu banyak akar pohon yang tumbuh di permukaan. Medan semakin sulit begitu kami tiba di jalur pendakian yang disebut lubang tikus. Dengan beban carrier segede lemari kami harus merangkak di bawah akar pohon menjalar. Setapak sempit di kemiringan lembah yang cukup dalam. Meskipun di lembah ditumbuhi pepohonan berkayu tapi tetap saja berbahaya kalau kami sampai terpeleset.

“In, kamu naik lebih dulu…” kata Baried.

“Nggak ah, kamu aja duluan. Badanmu kan lebih besar jadi bisa buka jalan sekalian…” kata IIn.

“badanmu kan kecil, jadi lebih lincah untuk bisa merangkak dan mengambil jalur yang lebih aman” balas Baried kemudian. Kami masih mengamati sekitar. Rupanya inilah satu-satunya jalan.

“aku duluan aja deh kalo kalian masih terus berdebat…” kataku menengahi. Carrier kubiarkan tertinggal, aku akan menariknya nanti dengan webbing. Merangkak! Gila… benar-benar seperti tikus. Perpaduan tautan tanah, batang, dan akar pohon menjalar yang menakjubkan. Aku tidak yakin akan terulang untuk kedua kali untuk pendakian berikutnya. Aku masih terus merangkak. Setelah hampir mencapai setapak yang lebih terbuka, IIn menyusulku. Tepat setengah meter IIn di belakangku. Detik itu juga, batang pohon tambatanku patah, dan aku terperosok.

“Awas In…!!” teriakku. Aku tidak menyangka Iin menyusulku sebelum aku sampai di posisi yang aman. Tak terhindarkan lagi, kakiku menendang tubuh Iin. Sampi dia ikut terperosok. Beruntung IIn masih bisa pegangan pada batang dan akar pohon yang lebih kuat.

“Hati–hati, jangan terlalu dekat” kata Yayak memperingatkan.

“kalian naik setelah aku sampai di ujung lorong…aku akan beri kode” kataku setelah situasi kembali tenang.

Perjalanan merangkak menembus lubang tikus membuat kami kehabisan tenaga. Hari ini terlalu sering kami berhenti untuk istirahat. Sementara itu batas vegetasi masih jauh. Setengah satu siang, istirahat siang yang mengejutkan. Belajar dari perjalanan kemarin, langit mendung sekitar jam dua siang, dan disusul hujan hingga malam. Begitu juga hari ini, warna biru langit masih terlihat di sela awan yang menggumpal. Sedikit harapan untuk melanjutkan langkah. Tapi, alam memberikan lain. Begitu kami tiba di ketinggian…mdpl, dimana pohon-pohon besar mulai jarang. Langit tiba-tiba gelap, biru langitku tidak terlihat lagi. Gemuruh mengejutkan beratnya langkah kami.

“Hujan?!” tanyaku.

Catatan di Atas Awan

”Bukan, angin” jawab Yayak pelan. gemuruh itu semakin terdengar keras. Seperti suara hujan, tapi tidak ada air. “Merapat! Semua berkumpul, ke sini!” teriak Yayak keras menambah keterkejutan kami. Seketika itu juga Baried yang semula berjalan di depan berbalik arah diikuti Iin. Kami berlindung di balik semak rumput yang tingginya hampir sama dengan tinggi badan kami. Azis masih berada di belakang. Tiupan angin membuatnya kepayahan untuk melintasi tanjakan penuh belukar dan rumput yang bergoyang tertiup angin.

“Badai!” katanya. Semua duduk membungkuk, melindungi diri dari tiupan angin. Punggungan ini terlalu terbuka, terlalu berbahaya jika kami memaksa untuk berjalan. Sepuluh menit terasa begitu lama untuk menunggu angin sedikit melemah.

Kami akan melanjutkan perjalanan, kami harus mencari tempat yang aman untuk mendirikan shelter. Sepuluh menit ini membuat kami lebih banyak diam, hanyut dalam pikiran sendiri. Bisa jadi, sepuluh menit ini membuat kami menyesal melakukan pendakian ini.

Sepuluh menit ini mengingatkan kami pada Noel. dan di sepuluh menit ini juga kami merasakan kehangatan sebuah persahabatan. Ketika tangan kami saling berpegang erat, kami tak ingin ada yang terlepas. Ketika kami duduk begitu dekat, kami tidak bisa berdiri sendiri. Perjalanan ini tidak bisa dilewati seorang diri. Kebersamaan, rasa percaya dan saling peduli adalah kunci.

Bersambung….

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply