Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (FINAL)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (FINAL)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (final) – Empat orang sudah ditemukan dan diantarkan pulang dalam keabadian. Tersisa satu sahabat yang masih terus dalam pencarian. Waktu operasi pencarian sudah melewati batas perkiraan awal, satu minggu, Masrukhi masih belum juga ditemukan. 

Penyisiran diputuskan untuk lebih rapat dengan lokasi yang lebih luas mulai dari lokasi ditemukan Fauzan, Dodo bergerak menuju puncak Tugu Surono. Semua personil dikerahkan untuk menemukan Masrukhi. Berkekuatan 25 SRU di tengah kabut dan rintik hujan pencarian Masrukhi dilakukan. 

Untuk kesekian kali kabut tebal menghalangi tim dan menghambat proses pencarian. Menghindari badai dan bahaya, pencarian dihentikan. Penambahan jumlah SRU rupanya masih tidak seperti yang diharapkan. Keberadaan Masrukhi menyisakan tanda tanya besar di benak setiap orang yang terlibat dalam pencarian. 

Catatan di atas awan

Beragam anggapan bermunculan di masyarakat yang mengikuti perkembangan kejadian ini, dan itu sangat tidak menyenangkan. Tekad untuk berhasil menemukan Masrukhi pun bulat. Pernyataan bahwa saat ditinggalkan Masruhi sudah meninggal mulai menemui bantahan. 

Ada yang yakin bahwa Masrukhi sekarang masih hidup, ada pula yang memastikan kalau saat ditinggalkan Masrukhi sebenarnya masih hidup, dan kalau dia tidak ditemukan di lokasi yang digambarkan Dewi dan Gentur, karena Masrukhi mampu bertahan dan dia bisa melanjutkan perjalanan. 

Terlalu banyak asumsi dan dugaan, dari pusat pengendali operasi diputuskan untuk menambah satu hari masa operasi. Dan kebesaran Tuhan kembali datang, dari ketinggian 3400 mdpl, dikabarkan Masrukhi telah ditemukan. Tangis haru pun pecah seiring berita kepergian yang dikirimkan salah seorang anggota tim pencari. Semua yang berada di pusat pengendali operasi, di dapur dan di sekitar rumah pak Muheri berpelukan mengucap syukur. Kelegaan yang sekian hari tidak pernah terasakan. Air mata yang tertahan itu pun jatuh. Sahabat telah kembali turun dari ketinggian puncak gunung Slamet.

****

Surat sahabat…

Dear : sahabatku yang telah mencapai puncak kedamaian abadi

Mengenangmu, membayangkan kamu ada di sini, di tengah acara pelantikan malam ini. Seminggu yang lalu genap 8 tahun kamu pergi meninggalkan kami. Kamu pergi begitu saja, tanpa pesan, tanpa berpamitan. Dan di indahnya malam ini, di bawah naungan bintang yang berkilauan memenuhi hamparan langit yang membentang luas, diterangi cahaya bulan purnama, di tengah hutan pinus dan cemara. 

Manakala semua sahabat berkumpul dan bersenandung lagu tentang alam dan persahabatan, aku ingat kamu, sahabat. Ada sesuatu yang hilang ketika kutatap keindahan dan keakraban yang terjalin di tengah kesunyian Bambangan malam ini.

Sahabatku yang paling cerewet, Iis… Sebagian hatiku terkikis setiap kali teringat namamu juga wangi parfummu yang selalu membuatmu bangga dan percaya diri meskipun sebenarnya kamu belum mandi. Sampai sekarang, harum parfum kamu masih tercium setiap kali aku datang ke Akuarium, sepertinya kamu ada di sana. 

Wangi kamu menyebar menerobos di setiap celah semua sudut Gelanggang yang dulu mempertemukan kita. Sahabat, aku masih ingat saat pertama kali mengenalmu. Meskipun kamu lebih tinggi 4 tingkat, tapi kamu tidak pernah mau dipanggil dengan awalan mbak. Kurang akrab, katamu saat itu.

Is.., kamu masih ingat Janu kan? Iya cowok jangkung berkacamata minus yang selalu bikin keki dan sering bikin sebel kamu itu. Aku masih ingat betul, betapa bingungnya kamu menghubungi untuk meminta komik sewaan yang dia bawa. 

Catatan di atas awan

Hingga akhirnya komik itu balik ke tanganmu setelah sebulan lebih ada di genggaman Janu, bahkan sempat kamu tinggal pulang ke Palembang. Dan kejadian semacam itu nggak cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali. Sampai aku ikutan capek. Kalian sering banget kena denda sampai belasan ribu karena terlambat mengembalikan komik-komik sewaan itu. 

Nggak tahu deh, Is, tuk anak kenapa hobi banget bawa komik-komik sewaan kamu, padahal di rumah, koleksi komiknya sekardus gede. Sejak seleksi calon anggota Mapagama, aku, kamu, dan Janu selalu bersama, kayak udah kenal lama aja.

Entahlah ada saja yang mengaitkan lidah kita untuk menciptakan keceriaan di sela-sela ketegangan mengikuti seleksi. Ada saja yang kamu lontarkan di tengah-tengah rasa lelah dan bosan, bahkan kamu juga sering dan senang banget nyebut Janu sebagai sephia-ku. Dasar jail banget deh lu…

Is.., kini kamu sudah pergi jauh dari aku, Janu, juga dari sahabat-sahabat yang lain. Kamu tinggalkan komunitas Bhezet juga kamu tinggalkan keluarga besar Mapagama. Gelanggang tidak bisa kau injak lagi. Sejak kamu pergi, sejak peristiwa Wajib Gunung 2001 kemarin, aku terkadang merasa sendirian dan kesepian di Akuarium, apalagi Janu sudah tidak pernah lagi datang. Aku hanya bisa berhubungan dengannya lewat e-mail atau ketemu dia di kampus. Katanya sih mau menyelesaikan kursus bahasanya dan akan kembali ke Akuarium tahun depan.

Is, kalau malam ini kamu ada di sini, kamu pasti akan tertawa mendengar keluhku tentang sephia dan kamu juga bakal ngerjain aku sampai habis-habisan.

Catatan di atas awan

Is.., aku tahu kamu tidak dapat membalas kalimat-kalimatku, tapi aku yakin kamu mendengar semua ucapanku. Dan meskipun tanganku tidak dapat lagi menggapai tanganmu, kamu pasti tahu kalau aku merindukanmu dan aku sedang mengenang indahnya kisah cerita persahabatan kita yang hanya seumur jagung. 

Banyak cerita yang tertulis di lembar persahabatanku tentang kamu, sejak seleksi calon anggota baru, Gladimula, hingga Wajib Gunung bulan Februari 2001 lalu. Dan satu kisah yang sangat aku sesalkan hingga kini, dan aku pun baru menyadari kesalahan itu setelah aku mendengar kisah cerita yang sebenarnya dari orang kepercayaanmu. 

Is.., kenapa dulu kamu tidak cerita padaku kalau kamu sayang dengan seseorang yang justru kamu comblangin untukku? Is, kalau saja dulu kamu cerita ke aku, pasti aku tidak akan mencomblangkan kamu dengan seseorang yang justru nggak pernah kamu sayangi. Is.., kamu pasti disana merasakan, kalau orang yang sebenarnya kamu sayangi senantiasa menanyakan cerita-cerita tentang kamu dan dia selalu merindukanmu. Dia juga sayang kamu, Is.

Teringat kembali peristiwa Wajib Gunung Februari 2001. Is.., aku senang banget ketika mendengar kamu selamat dari maut yang menyelubungi perjalanan Wajib gunung kelompok yang kamu pimpin, Kaliwadas I. Meskipun kondisimu dikabarkan kritis saat ditemukan, tapi aku yakin kamu mampu bertahan dalam evakuasi dan perawatan. 

Di Akuarium yang siang itu sibuk berselimut duka, aku menanti kedatanganmu kembali, aku siap menyambut kehadiranmu di tengah-tengah mereka, dan kita akan menyanyikan bersama lagu Mahameru punya Dewa 19. Sayang, rupanya kebahagiaanku tidak lama berpihak, 5 menit kemudian berita itu datang. Matahari telah bersemayam di ragamu. Semua shock mendengar berita itu, Is. Dan meski sempat dicegah untuk berangkat karena aku baru kemarin pulang dari evakuasi, aku memutuskan untuk ikut berangkat bersama ambulance untuk menjemputmu, membawamu pulang ke Yogya, ke Kampus Biru, ke Gelanggang.

Catatan di atas awan

Di kamar pemandian, aku tatap wajahmu yang tampak pucat, kurus dan lebih tua, untuk yang terakhir kali. Aku tahu semua energi tubuhmu terkuras habis dalam perjalanan panjang untuk mencari jalan keluar. Aku lihat mamamu membelai wajahmu yang kini tertidur dalam damai dengan tabah, tegar dan rela. 

Sesekali seorang wanita sebaya mamamu meneteskan air mata menatap kondisi mamamu yang terus mengajakmu berbicara dan seolah meninabobokan tidur panjangmu. Dan dengan tegas mamamu memastikan kalau beliau dalam keadaan sadar dan rela. Mamamu melarang setiap sahabat yang berada di dalam ruangan menangis, mamamu ingin mereka melepasmu dengan ikhlas.

Is.., aku rasakan betapa beratnya menunggu bergantinya sang waktu sendirian di tengah belantara hutan rimba dan hujan badai, sementara kamu tahu, sahabat-sahabatmu tidak mampu lagi bertahan. Kamu tinggalkan mereka dalam matahari. Kamu berjuang sendirian untuk keluar dari keterasingan, kebingungan, dan ketakutan.

Is.., malam ini aku teringat kembali padamu. Dan aku percaya kamu melihatku dari dunia atas langitmu. Kedamaian telah membalut seluruh jiwamu seperti yang kamu harapkan. Is.., ada bintang bersinar lebih terang di langit biru malam ini, iyakah itu kamu yang sedang tersenyum melihat upacara pelantikan anggota muda malam ini..?

Sahabat dari rumah sebelah, Fauzan… Sahabat, baru sekali aku mendengar namamu dan baru sekali juga aku melihat fotomu dalam sebuah surat kabar yang mengabarkan tentang hilangnya pendaki dari Mapagama di Gunung Slamet. Rupanya kamu menjadi penggembira tim Kaliwadas I saat itu.

Catatan di atas awan

Sahabat, aku tidak banyak tahu tentang kamu. Aku hanya tahu kamu dari unit selam. Meskipun aku belum pernah bertemu langsung denganmu, tapi setiap kali aku melihat sahabat-sahabatmu sibuk mempersiapkan tabung-tabung untuk latihan selam, aku lihat kamu berada di tengah-tengah mereka. Seketika aku sadar, kamu telah pergi meninggalkan mereka, begitu pula togamu. Baju kebanggaan itu masih tergantung, belum tersentuh tubuhmu. Sahabat, kamu tidak dapat lagi ditemukan di Gelanggang.

Telah kamu temukan laut keabadian dan kini kamu sedang asyik menikmati penyelamanmu di dasar laut biru. Bahkan telah kamu taklukkan istana dasar lautnya dan kamu tabur benih kedamaian abadi di sana.

Sahabat juga seniorku, Masrukhi… Selama di Akuarium jarang sekali aku bercakap denganmu. Aku juga tidak terlalu mengenalmu, yang aku tahu kamu adalah pendamping tim Kaliwadas I dalam Wajib Gunung angkatan Bhezet 3318.

Satu kegiatan yang bisa mengingatkanku tentangmu hanyalah saat Gladimula 18. Kamu banyak membantu calon anggota Mapagama termasuk aku. Pernah sekali kamu menjadi pendamping kelompokku di lapangan. Sore itu hujan turun membasahi tanah Jobolarangan, selesai SAR. Untuk sekedar berteduh dan menghangatkan diri, mereka disuruh membuat bivak dari ponco. Ketika bivak telah siap, kamu datang ke kelompok kami dan menyuruh kami makan semua bekal yang masih tersisa. 

Saat itu bekal crackers yang ada di carierku masih utuh 4 bungkus. Untuk menghormati kamu, kami buka satu bungkus dengan harapan bahwa kegiatan lapangan masih belum berakhir dan kami akan membutuhkan makanan ini untuk besok hari. Ah…rupanya kami tersandung batu rencana kami sendiri. Untuk kegiatan selanjutnya, yaitu survival, kami tidak diijinkan untuk membawa banyak makanan. Bahan makanan yang kami bawa hanyalah sebatas yang diberikan oleh panitia. Kalau saja kami tahu…

Sekarang kamu tidak akan pernah lagi bisa bergabung di tengah-tengah ritual penerimaan anggota baru, Gladimula…Dan akankah ada penggantimu, yang akan selalu memperhatikan adik-adiknya di lapangan. Aku percaya kamu selalu memperhatikan langkah mereka di Mapagama dari puncak keabadian dengan kedamaian yang sesungguhnya…

Catatan di atas awan

Sahabat juga seniorku, Dodo… “ Oh betapa sempitnya Yogya “ itulah kalimat terakhir yang sempat aku dan kamu ucapkan sebelum perpisahan terjadi. Entah mengapa, tiga hari sebelum keberangkatanmu mendampingi tim Wajib Gunung Kaliwadas I, dunia terasa begitu kecilnya. Di Akuarium kita ketemu, mau ke kamar mandi ketemu juga, e..di Mirota Kampus pun ketemu, aku sedang menunggu bis dengan temanku kamu lewat di depanku dan berhenti.

Pertemuan demi pertemuan terjadi tanpa disengaja dalam selang waktu yang hanya beberapa menit. Siang itu di tengah hiruk pikuk dan gerahnya kota Yogya, kita hanya bisa tertawa menyadari kebetulan, ketidaksengajaan yang terjadi. Hari itu kamu bilang kalau mau ke Sragen dengan temanmu.

“ Mumpung masih ada waktu “ katamu. Aku tidak mengerti maksud dari kalimat itu, yang aku tahu tiga hari lagi kamu harus berangkat mendampingi perjalanan Wajib Gunung tim Kaliwadas I dan kamu butuh waktu untuk mempersiapkan fisik dan bekalmu. Aku pun tidak mengerti, kenapa kamu yakin banget untuk naik dari jalur kaliwadas padahal kamu belum pernah naik dari sana begitu pun dengan anggota tim yang lain.

“ Bosan lewat Baturaden. Pengen nyoba yang lain “ katamu memberi alasan.

Aku hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasanmu. Aku percaya kamu bisa membawa tim Kaliwadas I hingga ke puncak dan menyelesaikan Wajib Gunungnya.

Dodo, dari lima sahabat yang dinyatakan hilang, kamu pulang lebih dulu. Tengah malam kamu tiba di Gelanggang. Mereka semua menunggumu sejak sore. Mereka ingin menyambutmu, meski mereka tahu kamu tidak bisa berjalan sendiri dan berlari dalam pelukan mereka. Kamu telah berbaring dalam damai ketika tiba di Gelanggang. Tangis duka dan kehilangan pun tidak bisa mereka tahan.

Dodo, tengah malam itu juga kamu diantar pulang dalam pelukan keluarga. Diiringi himne Gajahmada jiwamu melangkah menjauh. Jalanan Yogyakarta yang malam itu sunyi kembali bergetar mendengar sirine ambulan yang membawa tubuhmu. Mata-mata lelah di sepanjang jalan terjaga kembali, mereka keluar, ikut melepas kepergianmu. Doa-doa kedamaian terucap untuk tidur panjangmu…

Catatan di atas awan

Sahabatku yang paling kalem, Bregas…

Sahabat, harusnya kamu juga ada di sini malam ini, seperti halnya Iis, Dodo, dan Masrukhi. Alangkah indahnya jika mereka dapat merasakan keakraban malam ini bersama kamu juga sahabat-sahabat yang pergi bersamamu.

Gas..,Sesuatu yang tidak bisa aku lupa dari kamu adalah sifat kamu yang kalem dan pendiam. Selama aku menjadi temanmu, sahabatmu di Akuarium, aku tahu kamu adalah satu-satunya cowok pendiam bahkan paling pendiam aku pikir. Pertama kali mengenalmu, aku masih sering salah memanggil antara kamu dengan Toddy, tahu kan? Kalian sekilas mirip banget, hanya bedanya ketika sudah ngobrol baru kelihatan. Kamu senengnya ngomong pakai bahasa Indonesia sementara Toddy lebih lancar dengan bahasa Jawanya.

Gas, aku nggak berani membayangkan kesendirian, kebosanan, ketakutan, dan kelelahan yang kamu rasakan dalam cengkeraman hutan rimba dan hujan badai. Kalaupun saat masih bersamamu Iis masih bisa membangkitkan semangat hidupmu dengan cerewetnya, tapi apakah cerewetnya bisa mendobrak pribadimu yang pendiam dan tertutup hingga kamu bisa bangkitkan keinginan hidupmu dari dalam dirimu sendiri dan kalian bisa melangkah bersama.

Yah sudahlah. Kamu memang telah pergi menuju istana keabadian yang damai bersama Iis, sahabat terbaikku yang cerewet, ditemani kakak-kakak terbaik kita, Dodo, masrukhi, dan juga Fauzan.

Sahabat, bukan saatnya aku menangisi dan mengungkit kepergian kalian. Sekaranglah saatnya untuk mengenang indahnya persahabatan yang dulu pernah terjalin diantara kita, memaknai setiap kejadian yang terjadi dan mengambil alih semangat dan perjuangan kalian. Bersama sahabat di semua dunia, belajar menghargai hidup dan persahabatan serta arti perjuangan dan pengorbanan. Damailah jiwamu dalam puncak keabadian, Sahabat…

“Ok, semua siap. Kita doa dulu sebelum berangkat… ” kata Teo, coordinator pendakian. Pendakian ini tidak sama dengan pendakian 8 tahun lalu. Pendakian ini adalah perjalanan melepas rindu dan untuk sekedar mengingat peristiwa 8 tahun tragedi gunung Slamet yang merenggut nyawa 5 sahabat terbaik. Meneladani kedewasaan mereka, melanjutkan semangat dan mewujudkan cita cita yang terputus.

 

 

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply