Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 3)

Catatan di Atas Awan (part 4)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 3) – Sejak badai kemarin siang, kami masih belum beranjak dari shelter kedua kami. Puncak gunung Slamet sudah tidak jauh lagi. Dua jam perjalanan, kami akan sampai di sana. Tapi tidak hari ini.

Hujan masih belum mau reda, awan hitam masih juga tidak beranjak memayungi tanah gunung Slamet. Entah akan kapan gemuruh angin datang lagi, gemeretak kayu dan pohon tumbang ini tidak terdengar lagi. Sementara hawa dingin mulai terasa semakin menggigit. Hembusan angin pun tampak tidak mau diajak bersahabat.

Tidak ada kehangatan di sini selain pelukan dan balutan sleeping bag yang barangkali juga mulai basah dan lembab. Ditambah asap rokok beberapa kawan membuat udara di dalam tenda ini semakin sumpek, sesak, dan pengap. Pun tidak mungkin bagiku untuk membuka sedikit celah dari tenda kecil ini, hanya angin dan rasa dingin yang barangkali akan kudapatkan, bukan udara segar.

Jadwal pendakian mulai terganggu. Seharusnya, hari ini kami sampai di puncak dan mulai turun ke jalur Bambangan. Apa boleh buat, alam tidak mengijinkan pendakian ini berjalan sesempurna rencana yang telah kami susun.

Semua berjalan sudah tidak sesuai rencana. Perbekalan cadangan untuk 1 hari tambahan dipastikan harus dibuka. Harusnya malam ini kami sudah di basecamp Bambangan, bukannya diam menunggu badai berhenti. Terkurung dalam tenda yang rangkanya tidak lagi sempurna.

Alas tenda basah, sleeping bag lembab dan perbekalan menipis. Kembali turun dan mengakhiri pendakian sampai di titik ini, bukan keinginan kami. Kami akan menunggu sampai besok pagi, kami yakin besok akan lebih baik dan perjalanan akan dilanjutkan.

Catatan di atas awan

Pagi pun menyapa dengan ramah, hari ini. Sudah dua hari kami terjebak tanpa bisa bergerak sedikit pun. Angin mulai melemah, bahkan pagi ini langit tampak cerah dan matahari bersinar hangat. Pagi yang indah untuk bisa memulai aktifitas lebih bebas. Memanfaatkan panas matahari, tenda kami biarkan tanpa penghuni, semua keluar untuk mengeringkan sleeping bag dan beberapa barang yang lembab dan basah.

“kita harus bisa sampai puncak!!” teriak Azis semangat.

“aku juga ga mau kalau kita harus turun lagi lewat Baturaden. Kita ke puncak terus turun lewat Bambangan. Sumpah kapok lewat sini…” Baried ikut menimpali. Wajar kalau Baried enggan untuk melewati lagi jalur pendakian Baturaden, selain ancaman Lintah, dia tidak mau lagi merangkak di lubang tikus.

Badannya yang besar terlalu mudah untuk tersangkut dan itu membuatnya frustasi. “apa tidak sebaiknya kita turun?” kata Iin pelan. Ada kekhawatiran di bicaranya. Ada yang dia takutkan, tentang badai kemarin.

“Kalau nanti kita naik, terus, ada angin, badai seperti kemarin, bagaimana?” Iin menambahkan keraguannya. Nada bicaranya tersendat, perpaduan antara kewajiban untuk sampai puncak dan kekhawatiran bertemu badai menundukkan keberanian seorang Iin yang setiap harinya cuek dan tidak pernah mundur pada apapun. Kami terdiam.

”Iin benar, badai bisa saja datang lagi, seperti kemarin…” batinku.

“ya kita ngecamp lagi” jawab Azis.

”ngecamp di mana coba? kita nggak mungkin dirikan tenda buat camp di puncak gunung bro” Baried menimpali. “mau mati?!” Baried menambahkan kalimatnya dengan nada keras.

“ya kalau nggak bisa ngecamp di atas, kita turun lagi…” azis masih ngotot dengan pendapatnya.

“hei, lupa kamu kemarin gimana. Di daerah kaya gini, yang masih ada pohon aja susah buat jalan, gimana kalau ketemu badai di puncak gunung. Kamu tau medan ke puncak gak sih!!?” kali ini bukan pertanyaan yang diucapkan Baried, tapi lebih sebuah penegasan.

“kalau sampai jam 9 cuaca bagus, kita bisa lanjutkan perjalanan..” kataku setelah berkoordinasi dengan Yayak.

“Yakin Vi?” tanya Iin. Aku tahu ada keraguan yang bergelayut tegas di matanya. Aku mengangguk. Jauh di kedalaman hatiku aku juga takut badai itu akan datang lagi. Aku hanya bisa berdoa, semua akan baik-baik saja. Meskipun mimpi semalam dan keberadaan burung berbulu merah itu masih saja tidak mau beranjak jauh dari otakku.

Catatan di atas awan

Kemoloran hari pendakian, memungkinan kami akan bertemu dengan tim Kaliwadas II yang berangkat satu hari setelah kami. Sedangkan tim Baturaden I dan Kaliwadas I kemungkinan besar sudah berhasil melintas puncak Tugu Surono dan kembali ke Jogja.

Ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan, tim Baturaden II harus berhasil mencapai puncak, turun melalui jalur Bambangan dan kembali ke jogja. Begitu seharusnya. jika kami kembali turun melalui Baturaden, tanpa pernah menyentuh Tugu Surono sebagai puncak tertinggi gunung Slamet, itu artinya kami gagal mendapatkan keanggotaan kami. Perjalanan ini sudah kami persiapkan lebih dari 2 bulan. Semua butuh perjuangan dan pengorbanan.

Masih terlintas jelas bagaimana kami harus setiap hari bertemu untuk koordinasi, latihan fisik dua kali seminggu selama dua sampai tiga jam, menyisihkan sebagian uang kuliah untuk biaya pendakian, dan berkejaran dengan tugas kuliah, semua kami lakukan agar pendakian ini bisa berjalan.

Meskipun pada akhirnya, tim yang berangkat tidak sempurna, tanpa Noel. Dan pada pelaksanaannya, tidak seindah yang kami bayangkan…

Setelah briefing yang cukup lama. Dengan pertimbangan dan pemikiran yang cukup matang, kami siap melangkah lagi. Cuaca yang cukup cerah, terlalu sayang untuk disiakan. Kami tidak tahu akan sampai kapan cuaca seindah ini akan menemani langkah kami.

“kita butuh waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di puncak gunung. Itu perkiraan, kita ambil air dulu sebelum naik ke atas. Kata Yayak, di dekat batas vegetasi ada cerukan. Kita bisa ambil air di sana” kataku.

“jam 2 kita harus sudah jalan turun ke Bambangan. Lebih cepat lebih baik…” yayak menambahkan.

Catatan di atas awan

Dari beberapa cerita teman – teman yang sering melakukan pendakian, puncak gunung akan berkabut setelah jam 1 siang. Berbahaya jika terjebak kabut di puncak gunung. Selain tersesat karena setapak yang tertutup kabut, kita juga bisa tersesat karena banyak jalur untuk turun dan jalurnya hampir sama, pasir, tanah dan bebatuan.

Mengingat jalan untuk menuju puncak tertinggi gunung Slamet berada di bibir kawah, kami sepakat untuk menghindari puncak berkabut.

Pendakian pun dilanjutkan dengan timbunan semangat yang sudah terhalang oleh badai dua hari kemarin. Istirahat yang terlalu lama membuat badan kami terasa pegal, tapi itu bukan halangan. Dengan sedikit pemanasan, rasa pegal itu akan hilang.

Menapaki setapak menuju batas vegetasi. Hutan yang kami lalui sudah tidak serapat sebelumnya. Tidak ada lagi pohon – pohon raksasa dan lintah di tanah basah. Yang terhampar hanya ilalang dan pohon – pohon berbatang kecil yang tumbang. Pukul sepuluh siang kami tiba di pertigaan jalur Baturaden dan Kaliwadas.

Tidak ada jejak dari tim Kaliwadas II. Perkiraan kami akan bertemu di pertigaan ini. Namun yang kami temukan hanya tali rafia merah terikat di satu pohon, di dekatnya ada bekas api unggun dan sedikit sampah organic, sampah dari tim Baturaden I. Jejak yang sama dengan yang kami temukan di sepanjang jalur pendakian kemarin.

Sampai di batas vegetasi, sudah tidak ada lagi pohon pelindung, sudah tidak ada lagi halangan untuk menatap kegagahan gunung Slamet. Sejauh mata memandang hanya bongkahan batu dan tanah berpasir. Berpayung langit biru dan tersaput kabut tipis, puncak Slamet terlihat elok. Meskipun jurang-jurang kecil menganga di setiap alur badan gunung, bukan untuk ditakuti. Karena di dasarnya kami bisa mendapatkan air sisa hujan kemarin. Lekukan – lekukan yang menakjubkan.

“ole…le…” terdengar teriakan nyaring dari dalam hutan. Itu suara dari tim Kaliwadas II. Tidak berapa lama satu demi satu anggota tim Kaliwadas II bermunculan. Dengan cover carrier yang berwarna warni cukup mudah untuk dikenali.

“woi…pa kabar? Kirain dah nyampe Bambangan, masih disini juga rupanya” Doni memberi salam. Meskipun belum ada satu minggu kami tidak bertemu, pertemuan hari ini seperti pertemuan yang sudah lama tidak terjadi.

“gimana mau jalan, kemarin kehadang badai separah itu..” kataku menjelaskan.

Catatan di atas awan

“iya, kemarin kita juga sempet ketahan, tapi cuma semalem. Lho yang lain pada kemana neh? kok Cuma kalian bertiga, Azis ma Baried mana?”

”Ole..le…ayo kita jalan lagi. Kita tunggu di atas bro!” teriak Azis setelah selesai mengisi botol-botol kosong dari air di cerukan. “tuh mereka, ngambil air di cerukan..” kataku sambil menunjuk ke arah Azis dan Baried yang berada 20 meter di atas batas vegetasi. Azis dan Baried menyandang kembali carrier mereka dan meninggalkan beberapa botol kecil untuk bekal di perjalanan. “Woi, kami jalan duluan!” teriak Azis bersemangat. Belum aku memberikan jawaban, mereka sudah melangkah.

“Ayo, kita jalan lagi, lama lama diam bisa tambah dingin” ajak Iin. Iin melangkah pelan meninggalkan aku dan Yayak. Tidak ada salahnya juga kami jalan agak berjauhan, selama masih bisa melihat satu dengan yang lain. Jarak yang terlalu dekat kadang justru berbahaya untuk kami. Batuan gunung ini meskipun terlihat kokoh dan tidak tergoyahkan, sebenarnya mereka sangat rapuh dan tidak stabil. Salah kami ambil pijakan, batu-batu itu akan rontok dengan mudah. Kami bisa terperosok kapan saja, dan rock fall menjadi ancaman yang menakutkan.

“Kami jalan duluan, atau kita mau sama – sama jalan ke atas?” aku menawarkan diri mengajak tim Kaliwadas II untuk bersama-sama. “Yakin kalian mau ke atas sekarang?” Doni berbisik kepadaku. Aku mengangguk dengan mata berbinar yakin. “Kalau kalian mau, kita jalan bersama, tapi kami istirahat dulu sebentar” Teo salah satu anggota tim ikut bicara. Aku memandang jauh ke arah ketiga temanku yang sudah berjalan naik menapaki bebatuan gunung Slamet. Mereka sudah cukup jauh untuk dipanggil kembali. “Kami jalan pelan-pelan aja deh, kalian menyusul segera ya..” kataku.

“Ok, sampai ketemu di Tugu Surono. Hati – hati ya…” kata Doni kemudian. Langkah pun berlanjut menyusul Iin, Baried, dan Azis yang sudah jauh di depan. Sesekali aku kembali menatap ke bawah, tim Kaliwadas II masih terlihat istirahat di batas vegetasi.

”Vi, kita jalan lebih cepat, aku khawatir dengan mereka…” tiba tiba Yayak melangkahkan kakinya lebih lebar. Dia terlihat lincah menapaki bebatuan, tidak ada satupun yang runtuh karena pijakannya. Batunya yang benar-benar kokoh atau kelihaian dia mencari pijakan? Entahlah. Langkah kami merapat pada Iin. Kulit putihnya memerah terbakar matahari dan bibirnya bergetar oleh dingin.

Catatan di atas awan

“Kalian, susul Azis dan Baried, aku, akan mengikuti kalian” kata Iin terbata. Aku menatap ke atas gunung, Azis dan Baried semakin jauh dari kami. “Zis, Ried…berhenti!!” teriakku. Sesekali aku gunakan juga peluitku untuk menghentikan langkah mereka. Sia – sia, teriakkanku sepertinya tidak terdengar oleh mereka. Terpaksa kami harus mempercepat langkah.

“Aku kejar mereka, aku khawatir, mereka belum tahu jalan dan medan di puncak” kata Yayak. Aku dan Iin mengangguk. Dan Yayak bergegas menyusul Azis dan Baried. Perasaan khawatir dan kecepatan yayak berjalan membuat beberapa batu yang dipijaknya runtuh, beberapa kali dia terpeleset. Yayak masih terus berjalan. “Hoi, berhenti!!” teriaknya keras. Azis dan Baried yang hanya berjarak 15 meter dari Yayak menghentikan langkah. Azis sudah tidak lagi menggunakan sandal gunungnya. Dia nekat membiarkan kakinya menapaki bebatuan tanpa alas.

Sandal gunung kebanggaannya diikat di samping carrier, dengan satu sisi yang telah putus pengaitnya. Mereka bertiga kemudian berhenti menunggu aku dan Iin yang berjalan amat pelan. Semakin ke atas udara semakin dingin, oksigen semakin menipis dan perbekalan yang seolah tidak pernah berkurang beratnya bersandar di punggung kami. Menghela napas sebentar. Tim Kaliwadas II sudah tidak terlihat lagi terhalang oleh batuan dan kabut yang mulai beranjak naik menyelimuti badan gunung.

“Yak, kabut lagi” kataku pelan. Yayak mengangguk, mengiyakan. Kami sudah berada jauh di atas badan gunung, puncak tidak jauh lagi. Kami akan lanjutkan perjalanan sebelum kabut semakin tebal. Sambil istirahat dan berlindung dari panas matahari di balik batu yang agak besar, Azis memperbaiki sandalnya dengan tali frusik. Dia tidak boleh berjalan tanpa alas kaki. Batu dan pasir yang tajam akan sangat mudah melukai kulit kakinya. Kami tidak ingin itu terjadi. “kamu tuh bener – bener gila. Bisa – bisanya naik gunung tanpa alas kaki. Pelajaran buat kita semua. Merepotkan!” Iin bergumam.

Kami tahu kalimat itu ditujukan untuk Azis meskipun Iin tidak secara langsung menyebutkan nama. Azis tidak menanggapi, kali ini dia sudah benar-benar merasakan payahnya naik gunung dengan sandal. Walaupun namanya sandal gunung, itukan cuma di iklan televisi. Dengan medan berbatu, berpasir dan lereng yang curam konyol namanya jika tidak membekali diri dengan perlengkapan standar pendakian. Azis kembali memakai sandal gunungnya. Agar tidak lepas dan lebih nyaman Azis menggunakan kaos kaki agak tebal. Perjalanan dilanjutkan. Kali ini aku berjalan di depan, diikuti Iin, Baried, Azis dan paling belakang Yayak.

Catatan di atas awan

Bibir kawah gunung Slamet sudah terlihat meskipun untuk sampai disana masih butuh perjuangan dan tenaga yang ekstra. Lereng semakin curam, tidak terlalu banyak batu untuk pijakan, lereng berpasir yang harus dilalui. Kami harus berjalan menyamping agar tidak terpeleset. Seringkali untuk menjaga keseimbangan kami harus berjalan membungkuk. Langkahku terhenti, dadaku terasa amat panas. Kuambil air minum di daypack, seteguk yang menyegarkan.

“Kenapa Vi?” tanya Iin. Aku menggeleng, memberi isyarat aku baik – baik saja.

Sengaja aku tidak ingin terlalu banyak bicara, aku tahu kondisiku mulai menurun. Di detik itu, ketika kaki terasa berat untuk melangkah, beban carrier rasa-rasanya ingin kutinggalkan, dan tubuhku ingin sejenak direbahkan, sayup-sayup kudengar suara Adzan. Kabut tersingkap perlahan, aku lihat langit begitu cerah, biru tanpa awan dan suara adzan terdengar semakin jelas.

“Kita berhenti dulu sebentar. Dengerin adzan dulu” kataku menghentikan langkah Baried, Azis dan Yayak.

Keempat sahabatku berhenti, diam, dahi mereka berkerut, pandangan mereka jauh ke bawah gunung.

“Mana kedengeran suara Adzan di puncak gunung kaya gini, Vi” Baried memecah keheningan. Seketika dia melangkah diikuti Azis dan Iin.

“Iya, aku denger suara adzan, kamu juga denger kan Yak?” kataku meyakinkan mereka.

Heran, Yayak tidak menjawab sepatah katapun. Dia mendekat ke tempat aku berdiri. Aku masih mendengar suara itu, sangat jelas.

“Ayo, sebentar lagi sampai di bibir kawah” kata Yayak kemudian.

Aku tidak mengerti mengapa tidak seorang pun yang mendengar suara adzan dzuhur itu. Diselimuti rasa penasaran aku melangkah mengikuti jejak yang ditinggalkan Yayak. Aku memaksa mendahuluinya saat langkahnya terhenti untuk menungguku.

“Aduh!!” terdengar suara Baried berteriak.

Sesuatu terjadi padanya. Bergegas aku dan Yayak memastikan. “kenapa?” tanyaku. “gak papa, mataku kemasukan pasir” Baried menjelaskan sambil mengucek matanya.

Azis mencoba membantu dengan meniup mata Baried. Sekali dua kali hingga berkali kali tidak berhasil. “Udah, gak papa, dah agak mendingan…”kata Baried. meskipun dia bilang sudah agak mendingan, tapi mata baried masih merah dan dia masih terus mengedipkan matanya agar air matanya bisa mengeluarkan debu itu. Debu yang mengganggu mata Baried, sepertinya bukan debu biasa. Karena konsentrasi tertuju pada mata Baried, kami tidak menyadari kabut datang dengan sangat cepat.

Jelas sangat jelas kabut yang bergerak cepat tertiup angin. Suara gemuruh menyergap. “cepat berlindung di batu itu” Yayak berteriak sambil menunjuk ke sebuah batu besar 20 meter di atas posisi kami. Azis dan Iin berjalan merangkak menahan keseimbangan. Angin bisa menerbangkan kami setiap saat. “Cepat!” teriakku. Angin berhembus semakin kuat. Awan bergerak cepat bersimpangan arah.

Badai!

Azis dan Iin masih terus berusaha merapat di batu besar yang ditunjuk yayak. Batu itu cukup besar dan aman untuk berlindung kami berlima. Aku, Baried dan Yayak masih berlindung di batu yang tidak terlalu besar sambil terus memperhatikan langkah Iin dan Azis dengan cemas. Kami akan bergerak menyusul mereka setelah mereka mencapai tempat yang aman. Aku melihat Azis mulai kelelahan, berkali kali dia terpeleset dan satu sisi sandalnya terlepas dan jatuh ke dasar cerukan yang tidak terlalu dalam.

Catatan di atas awan

Dengan beban carrier yang semakin berat tertiup angin, Iin harus menuntun langkah Azis. Tangan Azis menggenggam tangan Iin dengan kuat. Ketakutan mulai membayang di wajah indo arabnya. Melihat keadaan ini kami segera menyusul. Yayak mengambil langkah di depan untuk membuka jalan. Dia berjalan menyilang ke kanan dan dia membuat jejak menyerupai anak tangga dengan sepatunya.

“Ikuti jejak!” katanya keras.

Aku dan Iin segera mengikuti Yayak, sementara Baried membantu Azis di belakang. Kaki Azis terluka. Setibanya di batu besar, aku dan Iin memeriksa luka di kaki Azis. Kami tahu balutan yang kami berikan hanya akan bertahan sebentar, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan.

“Biar, tar dibungkus pakai plastic aja deh…” kata Azis menyadari sebelah sandalnya hilang.

Kami saling pandang mendengar perkataan Azis.

“Sandal aja lepas, gimana plastic, hancur kale…” Baried menimpali.

“sepatu kamu bisa dikeluarin nggak, Ried?” tanyaku.

Catatan di atas awan

Baried dengan tegas menggeleng. “aku taroh di paling bawah, harus bongkar carier dulu!” jawabnya.

“Puncak masih jauh Yak?” aku memastikan.

“Kita tetep harus bergerak kan? Kita ga mungkin selamanya diam disini”

“Pasti, 10 meter di depan, kita sampai bibir kawah, kita ambil jalan ke kanan sampai di tugu surono. Disana lebih luas dan landai” Yayak memberikan arahan.

“Semoga angin ini cepat mereda…” harapku dalam hati.

Kami masih diam menunggu badai melemah. . Kami tahu, kami sudah terjebak tapi kami akan berusaha untuk lepas dari jebakan angin dan kabut gunung ini. Kami tidak tahu apa jadinya kalau batu ini tidak ada. Hingga akhirnya, menjelang pukul setengah satu siang angin melemah dan kami bergegas untuk menjangkau tugu surono. Tidak seperti yang kami bayangkan, 10 meter terasa sangat jauh, medan berpasir dan lereng yang sangat curam, kelelahan dan kedinginan yang menjadi.

Sepuluh meter harus dilalui dengan perjuangan, napas mulai tersengal dengan kadar oksigen yang menipis. Kali ini Iin berjalan di depan, dibelakang Iin ada aku, Baried, Azis dan Yayak. Kami tiba di bibir kawah yang terselimuti kabut.

Kalau saja hari cerah, kami bisa menikmati keindahan dan luasnya kawah gunung Slamet. Kami melanjutkan langkah ke kanan menuju Tugu Surono. Meskipun jalan yang kami lalui cukup landai tapi kami tidak bisa berjalan dengan tegak, seperti layaknya angin di puncak gunung, angin masih berhembus cukup kencang.

Catatan di atas awan

“Allahu Akbar…” teriak azis begitu kami sampai di Tugu Surono, puncak tertinggi Gunung Slamet.

Kami berkumpul, merebahkan diri sesaat bersandar di tugu surono yang tidak terlalu tinggi. Mengabadikan yang sudah diperjuangkan, Azis mengeluarkan kamera pocketnya. Dan beberapa gambar menjadi saksi pendakian kami di gunung Slamet.

“Pesta puncak…” Iin mengeluarkan roti tawar lengkap dengan selai kacangnya dan sebotol fanta merah. Ajakan yang menyenangkan. Disela-sela menikmati pesta puncak, sesuatu menarik perhatianku. Sisa pembakaran dan sampah yang berserakan. “Mungkinkah ada yang mendirikan camp di puncak ini?” batinku tidak percaya. Sangat jarang bahkan tidak pernah ada pendaki yang nekat mendirikan camp di puncak gunung, di titik tertinggi apalagi. Terlalu berbahaya. Angin bisa menerbangkan mereka setiap detik.

Dingin akan dengan mudah menyerap panas tubuh mereka, artinya ancaman hypothermia sangat besar. Rasa heran dan tidak percaya masih menyelimuti benakku. Belum terjawab bahkan belum sempat ku tanyakan pada Yayak, pendamping pendakian ini. Tiba tiba angin bertiup sangat kencang membawa hawa dingin yang menusuk.

Catatan di atas awan

Pasir berterbangan menyisakan perih di kulit ari. Badai datang lagi, dan ini bukan main-main. Kami segera mengemasi barang – barang. Azis yang sedang berpose di bibir kawah secepat kilat menuju ke arah kami di tugu surono, begitu juga dengan Baried. Aku dan Iin siap dengan carrier di punggung, sementara Yayak masih sibuk mengeluarkan tali rescuenya. “jalan ke kanan, turun!” kata Yayak. Aku dan Iin berjalan sesuai petunjuk Yayak. “Kanan…” kataku berulang.

Kepanikan memuat Iin berjalan sangat cepat, jauh di depanku. Kabut datang sangat tebal menghalangi pandangan. Jarak pandang sangat dekat. Kuhentikan langkahku, aku tidak mau kabut ini menyesatkan aku. “In, berhenti!!” teriakku. Aku berharap suaraku terdengar olehnya diantara gemuruh yang menderu. Tidak berapa lama, Baried muncul mengejutkanku.

“Azis ma Yayak mana?” tanyaku. Aku tidak mau ada yang terpisah.

“belakang” jawab Baried singkat.

“kita tunggu mereka” kataku kemudian.

“Iin mana? Aku susul dia ya…” Baried berjalan lagi untuk menemui Iin.

 

No Comments Found

Leave a Reply