Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 6)

Catatan di Atas Awan (part 6)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 6) – Bayang tubuh Dewi dan sekelompok pendaki tersapu kabut, menghilang di balik bebatuan puncak gunung Slamet. Seperginya si pendaki bersama Dewi, Gentur, Bregas dan Fauzan masih berusaha menolong Masrukhi.

Tetapi belum sempat jaket pinjaman itu melindungi tubuh Masrukhi, tangan Masrukhi bergerak. Seolah ada yang ingin dia gapai. Tidak berlangsung lama, tangan itu perlahan melemas dan tidak bergerak sama sekali. Sekejap sunyi mengercap diantara mereka.

Sunyi hanya terdengar suara deru angin dan bebatuan yang bertumbukan dengan batuan lain.

“Kalau Ruki meninggal, berarti dia meninggal di pangkuanku,” kata Dodo. Rasa tidak percaya, sedih, dan bermacam rasa berkecamuk di benak mereka. Tapi mereka sadar, mereka tidak boleh larut dalam situasi ini. Mereka harus tetap berjuang dan mencari jalan keluar. Dengan berat mereka tinggalkan Masrukhi dan tetap menyelimutinya dengan sleeping bag lalu dilapisi ponco. Mereka tidak mampu membawanya serta.

“Itu sleeping bagnya nggak kita bawa sekalian aja Do’? tanya Fauzan melihat mereka meninggalkan sleeping bag untuk selimut Masrukhi.

“Nggak usah, siapa tahu nanti dia bisa bertahan,“ jawab Dodo. Sebuah harapan dan doa terucap dari bibir Dodo. Sekali lagi tidak ada bantahan atau apapun untuk mempertanyakan pendapat dodo. Tim yang tersisa hanya 5 orang…Dodo, Gentur, Fauzan, Iis, dan Bregas.

Catatan di atas awan

Di tengah perjalanan hujan turun. Akibatnya jalan yang mereka lalui berubah menjadi aliran air. Jalur yang menjadi sungai itu menjadikan batu yang mereka injak menjadi sangat licin apalagi kemiringan medan yang curam. Tiba-tiba Fauzan terpeleset dan jatuh tergelincir sepanjang jalur yang telah dialiri air. Badannya terperosok hingga berpuluh meter bahkan hilang dari pandangan keempat teman yang berjalan di belakangnya.

Serta merta, Gentur, Iis, dan Bregas mempercepat langkah untuk mengejar Fauzan. Fauzan diam terduduk dalam genangan air dengan kondisi yang basah kuyup. Beruntung dia tidak cedera dan mampu berjalan lagi. Diluar perkiraan dan tidak terpikirkan oleh Gentur, Iis dan Bregas…mereka kehilangan kontak dengan Dodo saat melakukan pengejaran Fauzan. Rupanya Dodo tidak tepat mengikuti pergerakan ketiga sahabat itu. Tersisa empat orang yang masih bisa dalam jangkauan komunikasi. Mereka berharap Dodo baik-baik saja dan akan segera menyusul mereka.

“Lihat, kalian bisa lihat. Kita sudah dekat dengan batas vegetasi…” teriak Gentur sambil menunjuk di kejauhan samar-samar terlihat deretan pohon-pohon perdu.

Keempat sahabat itu mempercepat langkah untuk segera sampai di batas vegetasi. Dengan tertatih dan memaksimalkan tenaga yang masih tersisa Iis dan Gentur bergegas mendirikan tenda di tanah yang sedikit miring, tapi masih cukuplah untuk berdiri satu tenda ukuran kecil. Sementara itu Bregas yang menemani Fauzan berjalan juga mulai kepayahan. Hingga tenda didirikan mereka belum terlihat, padahal jarak mereka tidak terlalu jauh. Tercekat sesaat mendapati Bregas yang jalan kepayahan seorang diri tanpa Fauzan, Iis memberanikan diri untuk kembali jalan ke atas untuk menjemput Fauzan.

Catatan di atas awan

“Bertahanlah Zan, tenda tidak jauh dari kita….” Menahan galau yang amat sangat, Iis memberikan semangat atau setengah memohon pada Fauzan. Kondisi Fauzan jauh menurun, dia sudah sangat kesulitan untuk berjalan, merangkak pun terasa berat untuknya. Sementara di dalam tenda Gentur melakukan pertolongan semampunya untuk Bregas.

“Ayo, tinggal beberapa meter lagi Zan…” kata Iis sambil menunjuk tenda, seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak sedang menghibur Fauzan dengan mengatakan tenda sudah dekat. Tenda kapasitas 4 orang itu bergoyang tidak karuan tertiup angin, sesekali batuan menghantam, tapi di sini lebih baik daripada di puncak kemarin.

“Tur, bantu aku!” teriak Iis meminta pertolongan. Fauzan tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Tubuh dan carriernya sudah menyatu dengan tanah. Menggendongnya, jelas itu tidak mungkin Iis lakukan. Ukuran tubuh Iis terlalu kecil untuk bisa menggendong Fauzan yang notabene seorang atlet renang. Tidak ada sahutan dari dalam tenda. Hati Iis makin miris. Pun dia tidak bisa membiarkan Fauzan semakin lama berada di titik ini. Iis melepaskan carrier dari tubuh Fauzan dan menghempaskannya ke tanah. Sekuat tenaga, Iis menyeret Fauzan ke dalam tenda. Tragis.

“Is, keluarkan sleeping bag mu, sepertinya Fauzan terserang hypothermia…” kata Gentur. Bregas tidak banyak bicara, meski dia memang pendiam, tapi diamnya kali ini berbeda dengan biasanya. Dia juga tidak memberikan bantuan apapun. Tubuhnya meringkuk di pojok tenda, wajah putihnya terlihat pucat.

“Aku akan bagi panas tubuhku ke Fauzan…” kata Gentur kemudian. Entah kalimat itu ditujukan untuk siapa. Saat itu juga, Bregas mulai muntah – muntah. Kelelahan yang sudah terlalu.

“Santai kawan, kalau kita masih punya semangat hidup, kita pasti selamat kok..” kalimat itu berulang kali diucapkan Iis. Dia tidak peduli ada tanggapan atau tidak.

Hari makin gelap, sunyi seperti sunyinya pikiran mereka. Tidak banyak yang bicara, hanya Iis yang masih sanggup untuk keluarkan kecerewetannya, ya dengan mengulang kalimat yang sama. Kelegaan mulai menyelinap di tengah gelapnya malam. Fauzan mulai membaik. Tapi kelegaan itu sirna seketika ketika Fauzan bisa bicara meski pelan dan terdengar agak kurang jelas.

Catatan di atas awan

“Dodo mana?”

Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Fauzan. Iis, dan Gentur hanya saling pandang. Sesaat mereka bersamaan menatap Bregas yang masih belum bergerak di pojok tenda.

“Gas, kamu sakit?” tanya Fauzan kemudian. Bregas menggeleng pelan.

“Aku hanya butuh istirahat sebentar kok…” lirih, jawaban itu terdengar sangat lirih. Meski rasa perih dan nelangsa menghantui suasana hati keempat sahabat itu, tapi mereka tidak ingin memanjakan rasa itu. Serta merta mereka membangun keberanian dan semangat untuk hidup di tengah-tengah ketidakpastian. Ketidakpastian untuk selamat, ketidakpastian nasib Masrukhi dan Dodo, ketidakpastian bantuan yang dicari oleh Dewi, ketidakpastian kondisi Bregas dan Fauzan, ketidakpastian apakah mereka mampu bertahan dan keluar dari lingkupan badai dan jalan tanpa arah ini.

“Kalau saja kemarin peta itu terbawa…” gumam Bregas mengejutkan. Rupanya sepanjang hari ini, itu yang mengganggu pikirannya. Ya, pedoman jalan dan jalur pendakian gunung Slamet yang seharusnya bisa menjadi penuntun arah bagi perjalanan tim Kaliwadas tertinggal di kos Bregas. Terakhir kali peta itu mereka pelajari bersama, jalur mana yang akan mereka gunakan untuk naik dan turun.

Kontur yang begitu rumit dan hampir sama, jelas tidak terekam dalam ingatan mereka, altimeter yang seharusnya juga bisa membantu untuk menentukan di ketinggian berapa mereka sekarang juga hilang, begitu juga dengan kompas. Yang mereka ingat hanya jalur naik dari desa Kaliwadas kabupaten Bumiayu, turun di desa Bambangan kabupaten Purbalingga. Itu saja! Lalu bagaimana mereka bisa keluar dari dataran tinggi sebesar gunung slamet, hutan lebat sesubur ini tanpa benda itu.

“Sudah lah Gas, jangan diingat dan diungkit lagi…” kata Iis. Dia masih sibuk mengaduk bubur survivalnya. Paduan tepung terigu, esteemje rasa coklat yang dicampur dengan sedikit air, jadilah bubur rasa coklat dengan sedikit nuansa hangat rempah jahe. Tenda sekecil itu terlalu sempit untuk keempat sahabat itu bergerak leluasa. Gentur masih memaksimalkan pembagian panas tubuhnya pada Fauzan, sementara Bregas tertunduk lemas meringkuk di balik jaketnya yang lembab. Ada isak yang coba dia sembunyikan.

“Gas, makan dulu. Aku buat bubur coklat…” tanpa ragu Iis menyuapi ketiga sahabatnya. Iis yang biasanya jutek, galak dan keras kepala sedetik itu terlihat begitu keibuan, manis dan memancarkan kehangatan yang luar biasa di dalam tenda.

“Zan, Gas…kalian harus makan lebih banyak biar kalian bisa jalan lagi…” katanya kemudian merayu. Sesekali dia coba tersenyum, “kita pasti bisa” itu yang terbaca dari senyumnya.

“eh Is, gigimu kok hilang satu?” selidik Gentur mendapati ada yang kurang dari barisan gigi putih Iis. Iis mengangguk dan tertawa kecil.

“tapi tetep cantik kan?” selorohnya kemudian seolah ingin menghadirkan tawa dari giginya yang tanggal satu. Bregas tersenyum, Fauzan menahan tawanya di dalam sleeping bag. Gentur mencibir sambil menahan tawanya yang ingin meledak.

Catatan di atas awan

“Cewek satu ini memang gila, di tengah kondisi yang ga jelas kaya gini, hampir mati pula, masih aja dia becanda..”

Perbekalan semakin menipis, kondisi fisik dan mental mulai terkikis. Gentur merasa sudah saatnya bertindak lebih dari sekedar menunggu bantuan. Dia sendiri tidak yakin bantuan yang dicari Dewi akan datang. Masih terbayang bagaimana ganasnya badai sepanjang hari kemarin. Gentur ragu, Dewi bisa melewati badai itu dan selamat tiba di Bambangan, lalu berhasil mencari bantuan. Gentur pesimis dengan itu.

“Is, kalau kita berjalan menyamping ke kanan, ke selatan, kita pasti bertemu jalur Bambangan…” kata Gentur suatu pagi sambil terus berusaha membuat api dari sisa bahan bakar dan sampah yang bisa terbakar.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Iis mencari kepastian. Angin sudah tidak begitu kencang, bahkan pagi ini begitu cerah. Langit biru akhirnya memayungi mereka. Matahari memberikan hangatnya, dan itu tidak disia-siakan oleh keempat sahabat itu. Meski Bregas dan Fauzan belum pulih sepenuhnya, tapi matahari yang menghangatkan tenda mereka cukup memberi semangat untuk bertahan.

“Kamu ingat, Masrukhi kemarin pernah bilang kalau jalur pendakian ada di sebelah kanan. Dan hal yang sama juga dikatakan pendaki yang kemarin kita temui…”

“Tapi itu kemarin, ketika kita masih di atas. Tapi sekarang kita sudah di batas vegetasi. Aku sendiri tidak yakin kalau kita masih sejalur dengan posisi terakhir kita, saat masih bersama Masrukhi, Dodo, Dewi dan pendaki itu…” suara Iis melemah saat menyebut nama ketiga sahabat yang entah dimana dan bagaimana nasib mereka saat ini.

“Oiya, Tur…apa tidak lebih baik kita coba cari Dodo, selagi cuaca baik,” kening Gentur berkerut tidak mengerti menanggapi usulan Iis.

“Iya kita naik ke atas lagi…” Iis coba meyakinkan. Untuk beberapa lama mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Iis menatap ke atas puncak gunung Slamet. Berharap dia akan melihat Dodo berjalan ke arah mereka, meski dengan langkah yang kepayahan atau merangkak sekalipun, Iis terus berharap.

“Aku kurang sepakat Is. Kali ini aku menolak usulanmu…”

Catatan di atas awan

“Kenapa?” tanya Iis setengah berteriak. “Kita ga bakal tahu kondisi Dodo kalau kita ga coba cari dia lagi, Tur. Bahkan kita ga tahu kondisi terakhir dia, kita semua meninggalkan dia untuk mengejar Fauzan. Kita ga bisa meninggalkan dia begitu aja kan? Kita harus temukan dia. Mungkin saja dia masih hidup, dan kemarin dia berlindung di cerukan, atau pagi ini dia sedang jalan ke arah kita, atau….”

“Is, tenanglah!” pinta gentur sedikit memaksa.

Iis masih terus berharap. Berharap Dodo selamat, berharap Gentur mau mencari Dodo ke atas.

“Is, kamu lupa, kita disini tidak hanya berdua. Ada Fauzan dan Bregas yang juga membutuhkan keberadaan kita. Mereka masih butuh perawatan dan pengawasan, kita ga bisa meninggalkan mereka, meski hanya untuk ke atas sebentar…”

“Kita bisa berbagi tugas kan? Kau yang keatas cari Dodo, aku yang jaga mereka di sini…”

“Is, lebih baik kita selesaikan masak dulu. Mereka butuh tenaga lebih dari kita”. Gentur mengalihkan pembicaraan. Setengah hati Iis menyelesaikan bubur berasnya. Tidak ada bahan makanan lain selain seperempat beras dan dua bungkus mie instan.

“Selesai makan, kita bicarakan lagi bagaimana baiknya” kata Gentur kemudian. Acara makan pagi hari itu terasa sangat menyiksa batin Iis. Sekali lagi dia harus menyuapi Bregas dan Fauzan karena mereka masih lemas untuk bergerak. Sementara Gentur bermain dengan pikirannya di luar tenda. Masih terngiang di telinga dan pikiran Gentur “jalur pendakian ada di sebelah kanan” itu artinya dengan bantuan cahaya matahari dia bisa sedikit terbantu untuk menentukan arah. “aku hanya butuh jalan ke selatan” batinnya seolah meyakinkan dirinya sendiri.

“Is, kamu benar. Kita nggak bisa selamanya diam disini…”

bersambung….

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply