Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 7)

Catatan di Atas Awan (part 7)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 7)

“Selesai makan, kita bicarakan lagi bagaimana baiknya,” kata Gentur kemudian.

Acara makan pagi hari itu terasa sangat menyiksa batin Iis. Sekali lagi dia harus menyuapi Bregas dan Fauzan karena mereka masih lemas untuk bergerak. Sementara Gentur bermain dengan pikirannya di luar tenda.

Masih terngiang di telinga dan pikiran gentur “jalur pendakian ada di sebelah kanan” itu artinya dengan bantuan cahaya matahari dia bisa sedikit terbantu untuk menentukan arah. “aku hanya butuh jalan ke selatan” batinnya seolah meyakinkan dirinya sendiri.

“Is, kamu benar. Kita nggak bisa selamanya diam disini…”

“Iya, kita harus mencari Dodo…” Iis menyahut dengan harapan yang lebih. Dia mulai merapikan kembali alat masaknya, mengepaknya ke dalam kantung makan. Sepatu lapangan juga sudah dia kenakan, dan dia melapisi jilbab birunya dengan jilbab parasut agar lebih hangat. Meski matahari mulai tampak, tapi hawa dingin gunung masih terasa.

“Tidak, kita tidak akan ke atas. Kita akan ke bawah..”

“Maksudnya?”

“Is, kamu sadar nggak kalau kita telah bergeser…”

Catatan di atas awan

“Iya aku tahu itu, lalu kenapa?”

“Kita telah bergeser dari posisi yang akan dilaporkan Dewi, itu juga kalau Dewi selamat sampai Bambangan,…”

“Tur, kita harus yakin kalau Dewi akan berhasil, kita akan selamat, kita cari Dodo sambil kita menunggu pertolongan. Dewi pasti berhasil Tur…!”

“Seberapa yakin kalau Dewi akan berhasil dan pertolongan akan segera datang?” kata Gentur mempertanyakan keyakinan Iis. Iis terdiam, dalam hatinya pun dia tidak seyakin yang dia katakan.

“Walaupun Dewi selamat dan berhasil mencari pertolongan, aku tidak yakin mereka akan menemukan kita. Posisi kita bergeser jauh dari terakhir kita bertemu dengan pendaki itu Is. Dan yang akan dilaporkan Dewi adalah posisi terakhir kita, ketika Dewi masih sama-sama kita. Itu yang membuatku tidak yakin pertolongan akan segera datang…” kedua sahabat itu tertunduk dengan sesekali menengadah ke langit menyembunyikan tangis yang tidak tepat untuk dikeluarkan. ‘Tangis itu hanya akan menambah berat langkah dan melemahkan” pikir mereka.

“Is…Tur…” terdengar suara Bregas memanggil lirih kedua sahabatnya. Seketika Iis dan Gentur melesat masuk ke dalam tenda. Didapatinya Bregas yang sedang memeluk Fauzan erat. Wajah Fauzan putih pucat. Suasana mendadak kalut. Kehangatan sinar matahari tidak lagi bisa dirasakan. Sekujur tubuh Fauzan dingin, Matanya juga terpejam. Iis coba menampar wajah Fauzan tapi tidak ada perubahan yang berarti.

Bregas merapatkan pelukannya. Dia tahu benar, kondisinya belum sepenuhnya pulih, tapi dia tidak mau terus menerus diam melihat kedua temannya kerepotan mengurus Fauzan dan dirinya.

“Zan…!! Bangun! Buka mata kamu!” teriak Gentur keras dengan terus menampar dan memukul wajah Fauzan. Satu jam dua jam terlewati dengan usaha menyelamatkan nyawa seorang sahabat. Mereka tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup mereka menyaksikan kepergian Masrukhi, kehilangan jejak Dodo yang sampai siang tidak juga ada yang bisa diharapkan. Dimana dia sekarang, selamat atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

“Is, kita harus secepatnya membawa Fauzan dan Bregas turun…” kata Gentur setelah Fauzan menunjukkan tanda-tanda membaik. Bregas masih menemani Fauzan di dalam tenda.

“Iya, aku tahu kondisi Bregas tidak sebaik yang dia tampakkan tadi. Aku tahu dia memaksa dirinya untuk bertahan dan membantu Fauzan, walau aku tidak yakin akan sampai kapan dia mampu bertahan dan menyembunyikan rasa sakitnya…”

Catatan di atas awan

“Salah satu dari kita harus ada yang bergerak turun, Is”

“Kenapa kita tidak turun sama-sama Tur?”

“Tidak, kondisi Bregas dan Fauzan tidak mungkin kita ajak jalan. Apalagi jalan yang akan dilewati belum jelas, semua masih dalam perkiraan dan bermain dengan naluri. Coba-coba, trial, dan error. Itu hanya akan menyiksa mereka dan…memperlambat perjalanan. Aku akan turun duluan”.

“Kamu yakin?” Iis menanggapi. Tidak ada sanggahan atau bantahan. Keinginan Iis untuk mencari Dodo rupanya melemah, meski harapan masih saja ada di hatinya.

“Iya, aku akan turun lebih dulu” jawab Gentur yakin. Tapi tanpa sepengetahuan Iis, jauh di dalam hati Gentur, dia tidak sepenuhnya yakin bahwa jalur yang akan dilewatinya nanti adalah jalur yang benar menuju Bambangan atau menuju desa terdekat. Dia juga tidak yakin dia akan berhasil.

“Aku juga tidak yakin akan sampai Bambangan hari ini juga, mungkin aku harus bermalam di tengah hutan, atau bisa jadi aku malah tersesat…” kata Gentur dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Iis. Karena dia tidak mau Iis melarangnya, jika dia tahu dia ragu dengan langkah yang akan ditempuhnya.

Tanpa menunggu lebih lama, Gentur mengganti pakaian lembabnya dengan sisa pakaian kering yang masih ada. T-Shirt lengan pendek, celana panjang yang dilapisi dengan celana raincoat milik Fauzan. Melihat Gentur hanya memakai t-shirt tipis tanpa dilapisi dengan yang lain, Iis memberikan flanel lengan panjangnya. Sesaat gentur ragu untuk menerimanya, karena Iis pasti juga membutuhkannya.

Catatan di atas awan

“Pakailah, aku bisa bertahan di dalam tenda” kata Iis menjawab keraguan Gentur. Melengkapi perjalanan, Gentur membawa parang dan ponco yang masih ada di dalam carrier Fauzan.

“Fauzan tidak akan membutuhkan ini, mereka akan terlindungi di dalam tenda hingga pertolongan datang” pikir Gentur sambil terus mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya. Tidak luput dari ingatannya, Gentur mengambil jam Fauzan dan memakainya di tangan kiri. “Kompas di jam ini akan membantuku keluar,” batinnya yakin. Segenggam permen diberikan Iis, sekedar teman perjalanan.

“Kalian tunggu saja disini, aku akan segera mencari pertolongan,” pesan Gentur sebelum berlalu meninggalkan Iis, Bregas, dan Fauzan.

“Hati – hati Tur…”

Setengah sepuluh pagi. Mengawali perjalanan seorang diri menjelajah hutan mencari pertolongan. Gentur melangkahkan kakinya sebentar ke utara, berharap dia melihat ada jejak sampah atau jalan setapak. Tidak membuahkan hasil, sampah yang dia temui adalah sampah dari kelompoknya sendiri. Sampah sisa masak semalam dan tadi pagi. Tapi tidak serta merta Gentur kecewa dan patah semangat.

Niatnya untuk segera menemukan peradaban dan mendapatkan pertolongan membara di jiwanya. Potongan tali rafia yang masih tersisa dia kumpulkan untuk perbekalan membuat bivak jika harus bermalam di perjalanan. Satu setengah liter air diambil dari cerukan sebelum akhirnya tubuh kurus itu hilang di balik rerimbunan pohon hutan.

Di kedalaman hutan, Gentur masih terus berjalan mengikuti alur dari cerukan tempat dia mengambil air. Langkahnya terhenti ketika yang dihadapinya adalah patahan, jurang yang sangat dalam menganga. Gentur berbalik arah dan kembali ke cerukan.

Mengambil arah ke selatan kemudian turun. Lagi-lagi patahan yang ditemuinya. Dia tidak mau berbalik arah lagi. Melihat patahan yang menghadang langkahnya tidak terlalu dalam, Gentur memutuskan untuk climb down hingga ke dasar jurang.

Catatan di atas awan

Sesampainya di dasar, dia melanjutkan perjalanan turun. Di sebelah kirinya ada aliran sungai, dan di seberang lembah adalah punggungan yang sangat besar. Sementara di sebelah kanan, menunggu jurang yang dalam dan lebar. Gentur yang berjalan seorang diri merasa dirinya sangat kecil yang dihadang oleh bahaya yang bisa datang kapan saja. Dengan sangat hati-hati, Gentur berjalan di bibir jurang sebelah kanan, sesekali dia berjalan bolak balik untuk orientasi dan memilih jalur yang dirasanya mudah. Lagi lagi punggungan yang dilewati habis dan dia kembali berhadapan dengan jurang.

“Jalur pendakian ada di sebelah kanan,” itu saja yang terngiang dan membimbingnya berjalan. Gentur kembali menuruni lembah di sebelah kanan punggungan yang mengantarnya ke jurang terdalam. Gentur berjalan ke kanan menuruni lembah naik ke punggungan di seberang. Vegetasi mulai rapat. Gentur menggunakan parangnya untuk membuka jalan. Ada yang terlupakan olehnya. Dia lupa membuat tanda jalan, Iis pasti akan kesulitan menyusulnya karena jalan yang dilewati tidak melulu jalur yang sama.

“Ah, semoga kau tetap menunggu di tenda Is, Gas…” katanya dalam hati menyadari kealpaannya.

Punggungan demi punggungan dilewati, tidak ada jalan setapak yang ditemui Gentur. Dia harus menggunakan parangnya untuk membuka jalan. Suatu ketika parang yang digunakan Gentur terlepas dari gagangnya dan jatuh ke dalam belukar yang rapat seperti teranyam. Dengan kerepotan Gentur mencari mata parangnya, sial. Pencariannya sia-sia. Dengan sedikit jengkel Gentur melempar gagang parangnya jauh ke dasar lembah.

“Kamu gak ada gunanya lagi tanpa pasangan mu…!” umpatnya. Belukar yang lebat beberapa kali membuat Gentur terperosok. Tanah yang dia pijak rupanya berupa tumpukan belukar yang tebal. Tidak ada parang, perjalanan ini akan menemukan kesulitan yang akan sangat menguras tenaga. Berbekal kompas milik Fauzan, Gentur memilih melangkahkan kakinya ke tenggara. Hatinya berbunga setiap kali kabut tersibak menunjukkan padanya dataran rendah yang jauh.

Catatan di atas awan

“Ada dataran rendah tapi mengapa tidak kulihat peradaban?” tanya Gentur keheranan. Kenyataan itu membuatnya pesimis. Itu hutan dataran rendah. Artinya, begitu tiba di kaki gunung, dia masih harus berjalan entah berapa kilometer, baru bisa bertemu peradaban, itu juga artinya pertolongan tidak akan didapatkan hari ini juga. Gentur menghentikan langkahnya, membuka sebungkus permen.

“Sabar, kawan…” katanya.

Pagi telah lama berlalu, siang tidak lagi terasa panasnya karena lebatnya hutan Slamet. Dari jam tangganya, Gentur mendapati hari sudah mulai beranjak sore. Gentur bergegas memperpanjang langkahnya. Kemalaman pasti, tapi paling tidak selagi masih bisa melanjutkan perjalanan, tidak bisa mendirikan bivak di tempat yang lebih aman. Di lamanya perjalanan menembus hutan, Gentur menemukan kerangka bivak, di dekatnya masih tampak nyata bekas arang pembakaran kayu. Sisa api unggun. Penemuan ini membesarkan hati Gentur.

“Pernah ada yang bermalam di tempat ini..”

Gentur masih melanjutkan langkahnya, pohon dengan sayatan dia temukan. Jejak itu semakin meyakinkan Gentur untuk terus berjalan dan berjalan. Meskipun jejak itu menghilang dan menjelang maghrib, Gentur terhenti di lembah sempit yang dipagari dua tebing curam. Ada aliran sungai di bawah sana. Dengan sangat hati-hati Gentur menuruni lembah. Lereng yang curam membuat Gentur beberapa kali jatuh melorot bermeter-meter. Untung dia masih bisa pegangan pada akar atau batang pohon yang tumbuh di atasnya.

“dengan mengikuti aliran sungai biasanya akan sampai di desa…” duganya meyakinkan. Tapi malang, aliran sungai berair bening itu tidak mengantar Gentur ke desa atau ke perkebunan penduduk, melainkan ke air terjun. Segera Gentur berbalik arah, berjalan naik melawan arah aliran sungai. Malang kembali menyapa Gentur, di depan matanya tebing air terjun menjulang tinggi. Tidak mungkin Gentur memanjatnya. Putus asa.

Dengan berbekal pengetahuan teknik hidup alam bebasnya, Gentur memutuskan untuk mencari tempat yang landai dan terlindungi di bibir sungai. Disana dia akan mendirikan bivak dan bermalam.

Hari mendekat pada malam yang semakin gelap. Suara angin terdengar menderu. “semoga, badai tidak datang lagi,” harap cemas Gentur memandang sekelilingnya.

Catatan di atas awan

“Maaf kawan, aku masih belum bisa keluar. Bertahanlah…” suara hati Gentur bercakap dengan sahabat – sahabatnya. Sementara Gentur merebahkan tubuh lelahnya di dalam bivak beralas rumput dan berselimut sarung, sesuatu terjadi di atas.

“Zan, bertahanlah…Gentur sedang mencari pertolongan, bertahanlah…” pinta Iis memohon pada Fauzan yang mulai mengigau menyebut nama Dodo. Ada rintihan rasa sakit yang sepertinya sudah tidak bisa lagi ditahan.

“Is, apa kita akan terus menunggu disini?” tanya Bregas kemudian. Iis Tidak tahu harus menjawab apa. Sungguh, dia pun ingin cepat pulang. Dia juga ingin semuanya segera berakhir.

“Is, apakah kita harus meninggalkan Fauzan seperti kita meninggalkan Masrukhi dan Dodo?”

Iis tertunduk mendengar semua pertanyaan Bregas. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan, karena dia benar-benar tidak tahu apa yang bisa dia lakukan sekarang.

“Gas, kita tidak mungkin membawa Fauzan turun bersama kita…” kata Iis kemudian. Sejenak Bregas terkesima pada jawaban Iis.

Catatan di atas awan

“Besok pagi, kita turun. Kita ikuti jejak Gentur. Dia meninggalkan jejak sayatan di pohon untuk petunjuk…”

“Lalu, Fauzan?”

“Terpaksa kita harus meninggalkannya disini. Tenda dan sleeping bag ini akan melindunginya dari hawa dingin. Dia ga mungkin mampu berjalan bersama kita. Biar dia menunggu disini hingga pertolongan datang…”

Bregas menatap Fauzan yang tertidur di balut sleeping bag. Iis merapikan jilbab yang sudah berubah warna dan mengambil sebungkus mie instan untuk dihancurkan dan dicampur dengan bumbu.

“Lumayan, sekedar untuk camilan…” katanya, sambil menyodorkan bungkusan mie yang sudah berubah menjadi snack.

“Tolong kamu jaga Fauzan, aku keluar sebentar …”

“Mau kemana?”

bersambung….

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply