Cerpen

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 8)

Catatan di Atas Awan (part 8)

Catatan di Atas Awan Puncak Gunung Slamet (part 8) – Bregas menatap Fauzan yang tertidur di balut sleeping bag. Iis merapikan jilbab yang sudah berubah warna dan mengambil sebungkus mie instan untuk dihancurkan dan dicampur dengan bumbu.

“Lumayan, sekedar untuk camilan…” katanya, sambil menyodorkan bungkusan mie yang sudah berubah menjadi snack.

“Tolong kamu jaga Fauzan, aku keluar sebentar …”

“Mau kemana?”

“HIV..hasrat ingin vivis…hehe…” lagi-lagi, gadis itu membuat Bregas tersenyum.

“Beruntung aku bisa satu tim denganmu, Is” batin Bregas.

Beruntung, Bregas tidak sendirian. Masih ada Iis dan Fauzan yang bisa diajak bicara. Sementara gGntur seorang diri di tengah hutan. Derasnya hujan yang turun merubah tebing air terjun yang tadi sore kering mendadak mengantarkan air ratusan kubik.

Pelan tapi pasti bivak yang dibangun Gentur mulai terendam dan memaksa Gentur untuk segera menyingkir. Tidak ada lagi tempat berlindung. Melanjutkan perjalanan sama juga bunuh diri.

Malam berjalan sangat lambat, penantian yang membosankan. Sebentar-sebentar Gentur melirik jam, masih setengah Sembilan malam. Pagi masih terlalu lama untuk ditunggu. Tapi apa daya tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan memaksa diri untuk bisa tidur. Malang bagi Gentur, hanya bersandar pada batu dengan berkerudung sarung, mana bisa dia tertidur.

Kalaupun tidur, tidak untuk waktu yang cukup. Kondisi ini membuat Gentur frustasi. Berulang kali dia mengumpat, tapi hanya bisa dikatakan dalam hati. Rupanya dia masih bisa berpikir tentang hal-hal aneh yang sering terjadi di gunung. Dia Tidak berani mengumbar umpatannya, apalagi sekarang dia berada di tengah hutan dan…sendirian.

Catatan di Atas Awan

Malam berlalu, dengan kepala pusing dan mata sembab, Gentur menemukan hari sudah terang benderang. Jam di tangan Gentur menunjukkan pukul delapan pagi. Gentur segera bangkit meski pusing masih mengganggu kepalanya. Sebentar dia meregangkan badan sebelum memulai perjalanannya yang mungkin akan lebih panjang dan melelahkan.

Gentur mengemasi barang-barangnya, tapi rupanya air yang semalam mengganggu bivaknya menghanyutkan beberapa barang Gentur. Shelter yang aneh.

Gentur memulai perjalanan ke selatan, berusaha naik ke punggungan yang cukup terjal dengan bantuan akar pohon. Dengan kedua tangannya gentur menerabas masuk dan menyibak belukar dan pepohonan yang menghalangi jalannya. Begitu sampai di punggungan mata Gentur berbinar-binar melihat pohon arbei yang tumbuh subur.

“Lumayan bisa untuk ganjal perut..” katanya sambil terus mengunyah dan memetik arbei untuk bekal tambahan di perjalanan. Dari pengalaman perjalanan sebelumya Gentur merasa yakin kalau punggungan ini akan berakhir dan mengantarnya ke jurang yang dalam. Tanpa berjalan lebih jauh mengikuti punggungan, Gentur memutuskan untuk berjalan mengikuti arah alir sungai.

Beberapa air terjun ditemui, tapi semua bisa dilewati dengan climb down, ya tentu saja dengan mengambil jalur yang paling mudah. Untuk menghibur diri sendiri, sepanjang perjalanan Gentur bernyanyi dan bersiul dengan sebisanya. Bahkan dia menciptakan lagu secara spontan. Curhat pada alam begitu barangkali lagunya…

Perjalanan di lembah membuat Gentur belajar banyak. Selain arbei, Gentur juga mendapatkan bermacam begonia untuk makan siang. Tidak hanya itu, beberapa binatang juga sempat mengejutkan langkahnya, Gentur tidak berani memburu binatang-binatang itu. Dia malah berpikir, jangan-jangan dia akan menjadi mangsa buruan binatang-binatang hutan.

Pukul setengah tiga sore, langit kembali menitikkan air kehidupan. Hujan bulan februari kembali menghentikan langkah Gentur. Raincoat mulai basah dan hutan semakin gelap tertutup kabut. Gentur menghentikan langkahnya bergegas membuat bivak perlindungan.

Sayang, tali rafia yang masih tersisa tidak cukup panjang untuk membentangkan ponco. Gentur mengumpulkan daun-daun yang cukup lebar yang berserakan di sekelilingnya, ditambah dengan ranting pohon yang patah bersama kanopi daunnya. Itulah bivak Gentur hari ini. Ponco dijadikannya selimut dan carrier dia jadikan sleeping bag. Sepanjang malam dia akan menunggu. Dua hari berlalu, Gentur masih belum bisa mencapai perkampungan dan mendapatkan pertolongan untuk sahabat-sahabatnya.

Catatan di Atas Awan

“Sabar ya…” kata Getur berulang kali. Malam merambat lebih lambat dari kemarin. Suara tiupan angin terdengar bergemuruh disertai suara pohon-pohon tumbang. Kekhawatiran dan rasa takut mulai menyelinap di pikiran Gentur.

“Habis deh kalau pohon itu menimpaku” katanya pasrah. Dikeparahan itu Gentur teringat Dewi.

“Semoga Dewi berhasil, lebih cepat mendapatkan pertolongan…” harapnya.

Ini hari ketiga, Gentur berpisah dengan Iis, Bregas dan Fauzan.

“Empat hari berlalu, kalau Dewi selamat, seharusnya bantuan sudah datang, paling tidak kalau aku tidak berhasil atau aku celaka, Iis dan Bregas masih bisa diselamatkan, begitu juga Fauzan. Masrukhi dan Dodo juga bisa dibawa turun ke Bambangan…” batin Gentur mengingat sahabat-sahabatnya sedang menunggu pertolongan dan mereka sangat berharap pada keberhasilan Gentur.

Perjalanan dimulai lebih pagi karena Gentur tidak mau terhadang hujan lagi di tengah perjalanan. Masih menyusuri dan mengikuti arah arus sungai. Tanjakan sudah tidak terlalu banyak, jurang-jurang juga sudah tidak sedalam sebelum-sebelumnya. Hari ini Gentur berniat mengisi perutnya dengan tunas pohon palem, tapi kemudian dia teringat kalau dia sudah tidak mempunyai parang.

“Ah lupakan, bukankah aku sudah tidak punya parang untuk menebangnya..” katanya pada pohon palem yang tunasnya ranum menggoda. 

Gentur melanjutkan langkahnya. Hingga di pertengahan siang, hamparan ladang membentang di hadapannya. Dalam hati dia bersorak kegirangan. Tapi saat itu juga kelelahan yang amat sangat menyergap di tubuhnya. Sebentar-sebentar dia istirahat, barangkali karena hari ini perutnya sama sekali tidak terisi. Di tengah ladang, Gentur menyempatkan mencabut ubi tanpa permisi.

Begitu ditemuinya jagung yang kuning menggoda, tangannya dengan cepat memetiknya. Lagi-lagi tanpa permisi bilang minta pada pemiliknya. Ya kalau menunggu si pemilik datang ke ladang, bisa pingsan duluan dia. Ladang ini terlalu luas untuk dinikmati sendiri, apalagi kondisi Gentur yang mulai kelelahan. Semakin dekat dengan peradaban, semakin bertambah loyo sekujur tubuh Gentur.

Beberapa petani yang dijumpai tidak bisa memberikan informasi seperti yang diharapkan Gentur. Setiap kali Gentur bercerita kalau dia terpisah dengan sahabat-sahabatnya, petani itu hanya bilang “melas temen” – kasihan sekali.

Tidak ingin membuang waktu di tengah ladang dan bercerita lebih banyak, Gentur melanjutkan langkahnya, dan sekali lagi dia harus terjebak di hutan pinus.

“Berjalan dan terus berjalaaaannn, aku menemukan peradaban…” dendangnya dengan suara yang lantang tapi terdengar sumbang. Syair lagu yang pendek diulang hingga ratusan kali, dan di pengulangan yang entah untuk yang keberapa, langkah itu terhenti. Terdengar suara deru mobil. Secepat kilat Gentur berlari mendekat ke arah suara, dan dia temukan jalan aspal yang tidak begitu lebar. Sebuah kijang pick up melaju tidak jauh menuju ke arahnya.

Catatan di Atas Awan

“Allohu akbar…terimakasih Tuhan…” Gentur bersujud di antara aspal yang pecah.

Tidak ada kalimat lain yang bisa Dewi ucapkan. Tubuhnya menggigil menahan dingin dari amukan badai yang baru saja dilewatinya. Badai yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan. Badai yang telah memisahkan dirinya dari kelompok pendakian. Badai yang telah merenggut nyawa seorang sahabatnya.

Teman-teman pendaki yang menolong Dewi turun ke Bambangan sudah tidak terlihat lagi. Terakhir mereka masih bersama-sama saat tiba di rumah pak kadus Muheri, basecamp pendakian jalur Bambangan. Tapi saat pagi datang dan Dewi bangun dari kelelahannya, teman-teman itu sudah tidak ada lagi.

Seorang diri Dewi menunggu kepastian dari penduduk yang kemarin malam berangkat ke puncak gunung untuk menolong sahabat yang tertinggal. Sampai tengah hari, penduduk yang semalam mencoba melakukan pencarian belum terlihat turun. Sejak Dewi tiba di bambangan pada malam hari untuk meminta pertolongan, malam itu juga SAR kampung yang terdiri dari penduduk Bambangan melakukan pencarian. Sayang, mereka tidak bisa mendekati target seperti yang diceritakan oleh Dewi karena cuaca yang sangat buruk.

Mereka melanjutkan pencarian di kesokan harinya. Bersamaan dengan pencarian yang masih berlanjut, Dewi mencoba menghubungi Jogja untuk mengabarkan kejadian ini. Dari desa Bambangan, Dewi terus menatap puncak gunung yang tertutup awan hitam. Seperti payung, awan itu menutup puncak gunung. Dewi tidak tahu bagaimana nasib Gentur, Iis, Bregas, Fauzan, dan Dodo, dia hanya berharap semoga dia tidak terlambat.

Menjelang tengah hari, setengah dua belas siang penduduk yang kemarin melakukan pencarian terlihat turun menuju rumah pak Muheri. Dewi berusaha mencari sosok sahabat-sahabatnya diantar rombongan itu, tapi dia tidak menemukan siapapun. Dia juga tidak melihat tandu yang membawa Masrukhi. Kekecewaan dan rasa perih menyusup di relung hati Dewi. Dewi tertunduk, duduk lemas di beranda rumah pak Muheri dan terus menatap jauh ke puncak gunung.

Hujan kembali turun membasahi tanah desa Bambangan. Desa Bambangan yang tenang mendadak riuh. Suara mobil dan radio komunikasi memenuhi keheningan. Operasi pencarian dilakukan segera. Ratusan pendaki memenuhi beberapa rumah di desa Bambangan. Bukan untuk melakukan pendakian massal seperti yang sering dilakukan.

Sebuah ikatan persaudaraan dan rasa saling peduli yang membawa langkah mereka ke desa ini. Rasa kehilangan dan terpanggil untuk membawa kembali yang dikabarkan hilang membulatkan niat mereka untuk meninggalkan semua kepentingan dan hiruk pikuk kota. Jogja berduka, diiringi doa dari komunitas pecinta alam seluruh Indonesia.

Sementara itu, di stasiun Purwokerto yang sepi, pagi menggeliat. Ndaru, Wiwit, Eri, Linda dan Iwan masih tertidur pulas di kursi stasiun. Sejak semalam mereka bermalam di stasiun untuk kembali ke Jogja. Mereka telah berhasil menyelesaikan pendakian mencapai puncak gunung Slamet.

“Mas, bangun, mau dibersihkan” seorang lelaki setengah baya mengguncang tubuh mereka.

Barangkali karena kecapekan, mereka tidur sangat pulas. “Mbak, bangun sudah siang” kali ini Linda mendapat giliran. Dengan berat dia membuka mata, tersenyum manis pada petugas kebersihan itu, dan berlalu menuju mushola di sudut stasiun.

“Koran…koran…koran pagi mbak…” seorang penjaja Koran menyodorkan beberapa surat kabar ke arah Linda.

“Masih ngantuk kok disuruh baca Koran” batinnya. Penjaja Koran itu pun berlalu. Linda kembali menemui teman – temannya yang masih juga belum bergerak, Ndaru dan Wiwit sudah tidak kelihatan. Merasa tidak nyaman dengan pandangan lelaki petugas kebersihan, Linda serta merta membangunkan Eri dan Iwan. Geliat rasa malas membuai Eri dan Iwan. Masih dengan mata berat, kedua lelaki itu menyandarkan tubuh di bahu kursi. Linda menarik tangan keduanya, mendorongnya ke arah mushola.

“Cuci muka sana, malu tau!” Eri dan Iwan menurut. “teh hangat seger neh..” pikir Linda seraya berjalan menuju satu warung makan di dalam stasiun tidak jauh dari tempat mereka menempatkan carrier yang lembab.

“Koran…koran… pendaki hilang di gunung slamet…koran…koran…” lelaki penjaja Koran yang sama kembali mendekati Linda. Linda tidak terlalu menanggapi. Teh hangat lebih dia butuhkan dari sekedar Koran pagi. Linda menikmati teh hangatnya ditemani mendoan yang super tipis dan agak basah, mendoan khas bumi Banyumas. Linda melayangkan pandang matanya sejenak ke luar warung, memastikan carrier yang dia tinggalkan aman. 

Catatan di Atas Awan

Seorang lelaki tua masuk ke warung tempat Linda menghangatkan harinya dengan secangkir teh. Lelaki tua itu duduk tepat di depan Linda. Linda merasa terganggu dengan kehadiran itu. Dia pesan 4 bungkus minuman yang sama dan sebungkus roti basah untuk teman – temannya. Saat menunggu pesanan itu, sesuatu menarik perhatian Linda. “>>>>” .

Mata Linda terbelalak membaca headline surat kabar lokal yang dibentangkan pak tua. Berkali dia baca ulang headline itu untuk meyakinkan. Bergegas Linda meninggalkan pesanan untuk menemui teman – temannya yang asyik memainkan batang rokok mereka. Lelaki penjaja Koran yang tadi dibiarkan mondar mandir di hadapan mereka dipanggil,

Ndaru membeli beberapa Koran dengan headline yang sama. Mereka membaca dengan serius. Tidak ada komentar sampai akhir berita. Linda, Eri dan Iwan tertunduk, membiarkan tubuh mereka jatuh di lantai stasiun. Wiwit berlalu mencari wartel untuk memastikan berita itu. sementara Ndaru masih terus membaca berita serupa dari beberapa koran yang dibelinya. Tidak berapa lama, Wiwit kembali dengan mata yang berkaca-kaca. “Kalian pulang ke Jogja, aku dan Ndaru akan kembali ke Bambangan” katanya kemudian.

Badai masih saja tidak mau beranjak dari puncak gunung. Dari desa Bambangan awan di puncak terlihat bergerak memutar, tidak tentu arah. Hujan turun setiap hari tanpa reda, petir menyambar menyisakan pilu yang tidak berkesudahan.

Pencarian masih belum membuahkan hasil. Focus pencarian masih di sekitar lokasi terakhir yang diinformasikan Dewi. ”Kita harus bentuk tim tambahan, jangan lupa masih ada dua tim yang melakukan pendakian. Kita juga tidak tahu kondisi dan posisi mereka sekarang” Wiwit menyampaikan kekhawatirannya.

“iya, kita akan bentuk 2 tim tambahan untuk menyisir jalur pendakian Baturaden dan Kaliwadas. Semoga mereka masih ada di sekitar jalur pendakian itu” kata Dodi selaku penanggung jawab keseluruhan kegiatan ini.

Saat briefing berjalan, Gentur datang dengan menumpang ojek. Dewi yang sejak tiba di Bambangan lebih banyak diam, melamun menatap nanar ke puncak gunung, menyambut kedatangan Gentur dengan air mata yang tertahan. Semua orang yang berada di rumah kepala dusun Bambangan menatap haru kearah Gentur. Mereka memeluk Gentur dan mengucap syukur. Segelas susu hangat menghangatkan dingin dan lemahnya kondisi fisik Gentur.

“Masrukhi sudah meninggal” katanya pelan. Hening.

“Apapun kondisinya, kita harus membawanya pulang” Alif menegaskan.

Operasi pencarian sudah berjalan tiga hari, cuaca buruk masih saja menghalangi tim pencari untuk mendekati lokasi seperti yang digambarkan oleh Dewi dan Gentur. Sementara tim yang mencari lewat jalur Baturaden hanya menemukan jejak tali rafia. Cuaca sedikit agak membaik di hari Senin. Situasi ini digunakan oleh Tim Baturaden II dan kaliwadas II untuk melanjutkan perjalanan, turun ke Bambangan.

Meskipun angin masih berhembus kencang tapi hujan sudah tidak lagi turun. Tapi usaha itu tidak berjalan dengan sempurna, Agni mendadak terjatuh dan minta ditinggalkan. Kondisi ini tidak bisa membiarkan itu terjadi, dan di sebuah cerukan berbentuk menyerupai lubang kunci mereka kembali berlindung untuk merawat Agni. 

Kejadian ini mengundang keprihatinan berbagai pihak, media massa dan elektronik setiap saat mengabarkan perkembangan proses pencarian dan evakuasi. Belasan tim diturunkan untuk menyisir semua jalur dan kemungkinan lokasi. Berpedoman pada cerita Gentur tim yang berangkat dari jalur Bambangan menemukan jejak botol.

Tim terus melakukan penyisiran hingga mereka tiba di batas vegetasi. Mereka melihat sebuah tenda, persis yang digambarkan oleh Gentur. Tim merasa curiga, dari tenda itu tidak terlihat adanya aktivitas atau suara sedikitpun. Sunyi.

Tim mendekati tenda dengan cepat. Begitu pintu tenda dibuka, tidak ada Iis dan Bregas. Tim hanya menemukan Fauzan yang sudah meninggal. Tim segera mengabarkan penemuan ini ke pusat pengendali operasi. Keheningan kembali menyelimuti. Hanya terdengar suara radio yang kadang terganggu oleh suara angin.

Medan yang berat dan cuaca buruk menghambat proses evakuasi Fauzan. Harus menunggu bantuan agar bisa mengevakuasi Fauzan ke Bambangan. Tidak adanya Iis dan Bregas di tenda itu menguatkan perkiraan tim, Iis dan Bregas melanjutkan perjalanan. Tapi karena kendala cuaca, tim memutuskan untuk tetap berjaga di posisi Fauzan sampai bantuan datang.

Catatan di Atas Awan

Pencarian untuk mengejar Iis dan Bregas pun dihentikan. Baru keesokan harinya pencarian dilanjutkan dengan menghadang mereka dari bawah. Tim diberangkatkan untuk melakukan pencarian Iis dan Bregas melalui desa Serang. Sementara itu pencarian Masrukhi masih terus dilakukan. Tim mencari disekitar titik yang digambarkan oleh Dewi dan diyakinkan oleh Gentur, tetapi tim tidak menemukan jejak apapun di lokasi tersebut. Sesuatu yang tidak disangka-sangka, tim yang seharusnya mencari Masrukhi justru menemukan tim Baturaden II dan Kaliwadas II di sebuah cerukan.

Keadaan Adi semakin memburuk kemungkinan terserang hypothermia sehingga harus ditandu, Agni harus dipapah untuk bisa berjalan. Tim pencari yang terdiri dari penduduk desa Bambangan memberikan bekal roti dan nasi mereka untuk anggota tim Baturaden II dan Kaliwadas II.

“Tasnya ditinggal saja, nanti ada yang bawakan” kata salah seorang anggota tim pencari.

Tanpa menunggu lebih lama, tim dievakuasi menuju Bambangan. Mendekati plawangan cuaca membaik, matahari terasa lagi panasnya, langit biru tampak indah memayungi jalur menuju Bambangan. Keindahan yang tidak bisa dinikmati dengan sempurna, karena tangis dan kehilangan tidak bisa jauh dari keseharian operasi pencarian.

Sore hari setelah mendapat pertolongan dan pemulihan kondisi fisik di pos 4, tim Baturaden II dan Kaliwadas II sampai di desa Bambangan. Agni dan Adi segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan, sementara anggota tim yang lain dievakuasi ke Purwokerto untuk segera pulang ke Jogja. Pencarian masih berjalan.

Catatan di Atas Awan

14 Februari, yang katanya bertepatan dengan hari kasih sayang, Iis ditemukan masih hidup tetapi terserang hypothermia. Lokasi penemuan Iis yang berada di jurang membuat evakuasi tidak bisa dilakukan segera. Terpaksa tim harus menunggu peralatan rescue datang. Di hari itu juga, Dodo ditemukan, meninggal. Tetapi karena saat ditemukan hari sudah sore, evakuasi tidak bisa dilakukan. Semua menunggu!

Dan pertolongan evakuasi itu datang. Fauzan dan Dodo kembali ke Jogja keesokan harinya setelah dilakukan visum dokter. Semua berduka, mereka yang kembali tidak lagi bisa bercerita. Iis satu-satunya yang bisa diharapkan, dia masih hidup. Sebuah kekuatan untuk bertahan hidup yang membuatnya mampu bertahan. Semua yang di Bambangan berharap Bregas juga akan ditemukan dalam keadaan hidup. Karena sampai hari ke 7 sejak Dewi sampai di Bambangan, nasib Bregas masih dalam tanda tanya.

Meskipun masih hidup, Iis tidak bisa memberikan keterangan apapun tentang Bregas, luka yang dialaminya membuat dia hanya bisa terbata-bata mengucap kata dan mengerang kesakitan. Usaha evakuasi dan pemulihan kondisi terus dilakukan untuk Iis. Sampai pada suatu detik, di dini hari yang sunyi, gemeretak kayu patah menggetarkan tanah Serang, Iis menghembuskan napas terakhirnya. 

Kenyataan ini sangat menyakitkan untuk tim yang menemukan dan merawatnya. Untuk beberapa saat mereka merasa frustasi, menyesal dan menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu menjaga Iis. Pun Tuhan sudah berkehendak lain, setiap berita yang datang harus diterima dengan tegar meski rasa kehilangan tidak lagi bisa tergambarkan. Iis meninggal, sementara Bregas dan Masrukhi masih belum ada kepastian.

Operasi pencarian hilang di gunung Slamet masih menjadi berita yang menyita perhatian banyak pihak. Mengingat waktu pencarian yang hampir satu minggu, tetapi dua korban masih belum ditemukan. Bantuan logistic terus berdatangan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan operasi. Mereka harus ditemukan dan dibawa pulang.

Catatan di Atas Awan

Dan di 17 Februari yang sunyi, berita dari ketinggian 3020 mdpl bergema di pusat pengendali operasi di desa Bambangan. Bregas ditemukan, dalam keadaan meninggal. Berselimut sarung dan berbalut jaket hitam, Bregas menghembuskan napas terakhirnya. Satu demi satu mereka pergi. Sekuat tenaga mereka menjaga napas dan bertahan hidup, namun badai tetap saja memisahkan mereka dengan yang lain.

Empat orang sudah ditemukan dan diantarkan pulang dalam keabadian. Tersisa satu sahabat yang masih terus dalam pencarian. Waktu operasi pencarian sudah melewati batas perkiraan awal, satu minggu, Masrukhi masih belum juga ditemukan. Penyisiran diputuskan untuk lebih rapat dengan lokasi yang lebih luas mulai dari lokasi ditemukan Fauzan, Dodo bergerak menuju puncak Tugu Surono. Semua personil dikerahkan untuk menemukan Masrukhi.

Berkekuatan 25 SRU di tengah kabut dan rintik hujan pencarian Masrukhi dilakukan. Untuk kesekian kali kabut tebal menghalangi tim dan menghambat proses pencarian. 

Menghindari badai dan bahaya, pencarian dihentikan. Penambahan jumlah SRU rupanya masih tidak seperti yang diharapkan. Keberadaan Masrukhi menyisakan tanda tanya besar di benak setiap orang yang terlibat dalam pencarian.

Beragam anggapan bermunculan di masyarakat yang mengikuti perkembangan kejadian ini, dan itu sangat tidak menyenangkan. Tekad untuk berhasil menemukan Masrukhi pun bulat. Pernyataan bahwa saat ditinggalkan Masrukhi sudah meninggal mulai menemui bantahan. Ada yang yakin bahwa Masrukhi sekarang masih hidup, ada pula yang memastikan kalau saat ditinggalkan Masrukhi sebenarnya masih hidup, dan walaupun dia tidak ditemukan di lokasi yang digambarkan Dewi dan Gentur, karena Masrukhi mampu bertahan dan dia bisa melanjutkan perjalanan.

Terlalu banyak asumsi dan dugaan, dari pusat pengendali operasi diputuskan untuk menambah satu hari masa operasi. Dan kebesaran Tuhan kembali datang, dari ketinggian 3400 mdpl, dikabarkan Masrukhi telah ditemukan. Tangis haru pun pecah seiring berita kepergian yang dikirimkan salah seorang anggota tim pencari. Semua yang berada di pusat pengendali operasi, di dapur dan di sekitar rumah pak Muheri berpelukan mengucap syukur. Kelegaan yang sekian hari tidak pernah terasakan. Air mata yang tertahan itupun jatuh. Sahabat telah kembali turun dari ketinggian puncak gunung Slamet.

Tapi di mana Masrukhi ditemukan? Apakah dia masih hidup?

Bersambung….

NOTE:

Cerita ini adalah copy paste dari kisah yang dibagikan di www.kemudian.com yang dibagikan oleh user kaiyangsa. Saya bagikan ulang karena saya suka dengan kisahnya dan sebagai pembelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam setiap memulai perjalanan.

berikut artikel aslinya DI SINI

No Comments Found

Leave a Reply